GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA

Propeller Ads

Propeller Ads

Showing posts with label Paroki. Show all posts
Showing posts with label Paroki. Show all posts

Sunday, June 5, 2016

SEJARAH Dan Pesan GUA MARIA SANTOK

(Firminus Andjiou OFMCap)

Petunjuk Gua Maria Santok
Gua Maria Santok adalah gua Maria alam yang berukuran 10 X 24 M, yang letaknya di pinggir jalan raya Santok, Kecamatan Sajingan Besar, yang dapat dijangkau sekitar 2-3 jam dengan kendaraan dari kota Sambas. Di dalam gua Maria Santok yang letaknya di bawah tanah, terdapat walet-walet yang bersarang dan udaranya sejuk, karena ada air kecil yang mengalir di tengah-tengah gua. Di sekitar gua Maria, alam masih terasa alami. Banyak pepohonan besar mengitarinya. Pohon-pohon itu masih terjaga kelestariannya.

Di dalam Gua
Pada tahun 1991 dalam suatu perjalanan turne ke kampung Aruk di daerah perbatasan, Bapak Uskup Hieronimus Bumbun OFMCap yang didampingi Pastor Firminus Andjiou OFMCap diajak oleh kepala desa Sasak, Bapak Amran dan Bapak Hendrik Putera untuk melihat sebuah gua alam di daerah Santok. Kepada Bapak Uskup mereka mengatakan, bahwa gua alam ini hendak mereka jadikan sebagai tempat ziarah Gua Maria, dan mereka meminta agar Mgr. Bumbun bersedia memberkatinya. Ketika Bapak Uskup bersedia, maka Pastor Firminus diminta untuk mempersiapkan pemberkatannya.

Ketika upacara pemberkatan Gua Maria Santok oleh Bapak Uskup Hieronimus Bumbun pada tahun 1993 yang hadir bukan hanya umat dari kampung Sasak, tetapi hadir juga umat-umat dari kampung perbatasan dan juga umat dari kota Sambas. Saat itu umat dari kota Sambas pergi ke Sasak dengan motor air dan motor air itu berhenti di kampung Balipat. Dari kampong ini rombongan masih harus berjalan kaki sejauh 5 KM menuju gua Maria Santok, yang baru saja dibuka oleh pihak perusahaan yang mengerjakan kayu, yakni PT Yamaker.

Jalan Menuju Gua Maria Santok
Pembukaan gua Maria Santok dimeriahkan dengan Drum Band dari Persekolahan Amkur, Sambas. Umat pada waktu itu bermalam di lokasi gua Maria Santok dan suasana pada malam harinya bagaikan pasar malam di tengah kesunyian malam. Gua Maria Santok waktu itu masih hutan belantara dan belum ada satu rumah pun yang ada di sekitar lokasi gua Maria itu. Umat yang hadir bermalam di pondok-pondok seadanya beratapkan daun, tetapi tanpa dinding dan tiang pondok terbuat dari kayu-kayu bulat. Umat dari Sambas sendiri bermalam di sebuah pondok besar berukuran 8 X 12 M beratap sirap dan berdinding papan yang berbentuk rumah panggung. Pada malam itu kebanyakan umat tidak mandi karena turunnya hujan yang sangat lebat, sehingga mereka  sulit untuk pergi ke kolam-kolam mandi yang dibuat.  Upacara pembukaan esok harinya di mulai pukul 9 pagi dengan misa meriah dan di iringi koor dari para suster KFS, Sambas dan dibantu oleh OMK (Orang Muda Katolik) dari daerah perbatasan Sajingan dan yang lainnya.

Salib di Depan Gua Maria Santok
Arti Kata Santok
       
Menurut beberapa orang, kata Santok berawal dari kata Tasantak yang merupakan bahasa Dayak setempat yang berarti tersandung. Mengapa dikatakan demikian? Karena pada jaman dahulu daerah Santok adalah hutan lebat dan jalan agak menanjak. Biasanya hutan ini didatangi untuk berburu. Menurut cerita ada serombongan orang berburu ke daerah ini. Kemudian salah satu di antaranya tersandung kakinya pada batu. Oleh karena itu ketika ada rombongan yang mengajak berburu, maka dia mengatakan, “Kita berburu ke tempat si anu yang tersandung kakinya”. Kemudian perlahan-lahan daerah itu dikenal sebagai daerah Santok.

Tampilan Depan Gua Maria Santok
Sejarah Tanah

Luas tanah Santok berukuran 2000 X 500 M. Riwayat asal usul tanah adalah sebidang tanah warga masyarakat Desa Santaban sejak tahun 1980 hingga sekarang. Surat keterangan tanah bertanggal 18 Juni 1990 atas nama Desa Santaban ditanda-tangani oleh Amran, selaku Kepala Desa dan saksi Hendrik Putera selaku ketua LKMD dan diketahui oleh Camat Teluk Keramat Drs. Animuddin Hardigaluh. 

Letak tanah di mana terdapat gua Maria di dalamnya berada di jalan Gunung Santok, Dusun Sasak, Desa Santaban, Kecamatan Teluk Keramat yang sekarang menjadi kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. Batas-batas tanahnya adalah sebagai berikut. Sebelah Utara berbatasan dengan jalan raya (2000 M). Sebelah Selatan berbatasan dengan hutan negara (2000 M). Sebelah Barat berbatasan dengan hutan negara (500 M) dan sebelah Timur berbatasan dengan hutan negara (500 M).


Dalam bentuk surat keterangan yang ditandatangani oleh Bapak Hendrik Putera selaku ketua umat Katolik, pada 2 November 2006 tanah itu diserahkan kepada Kapusin melalui pastor Firminus Andjioe OFMCap untuk dikelola sebagai Gua Maria.

Tanggal 26 Juni 2010 dibuat surat penyerahan tanah dari Dewan Stasi Sasak kepada Provinsial Kapusin Pontianak, yang dalam hal ini diwakili oleh pastor Firminus Andjioe OFMCap, tanpa ganti rugi untuk mengelola dan menguasai tanah di gua Maria Santok. Surat ini ditanda-tangani oleh Kasianus Subuh selaku Ketua Dewan Stasi dan Sekretaris, Herkulanus Palugoh. Sebagai saksi dan persetujuan serah terima tanah gua Maria Santok juga ditandatangani oleh C.Alay, Hepni, Aleksius Morni, Iyus, F. Zainuddin, Donatus Marikus, Vinsensius, Paulus Minggu, Yohanes Bosco dan Muliady. Surat penyerahan tanah ini diketahui oleh Kepala Desa Santaban, yakni Bapak Sumardi dengan nomor surat: XV/C/XIX/004/S.P./2010. Sekarang tanah ini sudah disertifikatkan untuk tempat ziarah rohani oleh Bapak Muchsin,.S.H,.M.Kn selaku pejabat Notaris dan PPAT Kabupaten Sambas.

Gua Maria Santo dari Dalam
Perkembangan terkini

Di dalam Gua alam ini diletakkan sebuah patung Maria tangan terkatup dengan tinggi  2 M. Kemudian di atas patung Bunda Maria diletakkan salib berukuran 1 M. Di atas Salib di letakkan satu patung Hati Kudus Yesus. 

Setiap bulan Mei yang adalah bulan Maria dan Bulan Oktober yang adalah bulan rosario diadakan misa atau ibadat sabda, jika tidak ada pastor). Perkembangan terkini setiap Minggu diadakan Ibadat Sabda oleh umat setempat, tetapi sekali waktu sesuai jadwal ada Imam yang memimpin di situ.


PESAN -PESAN DARI  GUA MARIA SANTOK

Berdoa Tiga Kali Salam Maria Tiap Hari

Sekitar tiga ratusan orang berziarah di Gua Maria Santok, Minggu 29 Mei 2016 di penghujung bulan Maria ini. Sekelompok kaum muda dari kampung Sanorek nampak hadir. juga mereka terlihat khusus mengikuti misa yang dipimpin oleh pastor Firminus Andjioe OFMCap dan didampingi oleh Pastor Samri OFMCap serta seorang prodiakon Bapak Tajur. 


Di layar monitor yang ada di dalam gua Maria tersebut ditampilkan PESAN GUA MARIA SANTOK:

“Berdoalah  setiap hari tiga kali Salam Maria”.
   
Salam Maria yang pertama - untuk jiwa-jiwa di api pencucian.
Salam Maria yang kedua - memohon di bantu meningkatkan kesejaterahan hidup rohani dan jasmani.
Salam maria yang ketiga - untuk memberi hadiah kepada Bunda Maria.
   
Selain itu di layar disorotkan juga sebuah pesan: Jangan Ragu Berdoa Salam Maria. Mengapa? Karna di dalam doa Salam Maria terdapat kalimat: “TERPUJILAH BUAH TUBUHMU YESUS”. Jadi berdoa Salam Maria berarti serentak memuji Tuhan Yesus.(FCW).

Monday, May 9, 2016

SEKOLAH DASAR DI ELOK KOLONG (Bagian 4)

SEBUAH PERJUANGAN UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA
ANAK-ANAK PEDALAMAN YANG BERPENDIDIKAN
(P. Firminus Andjioe OFMCap)

Kini keempat guru muda,  yakni Albertus Alang, Stefanus Agung, Dominikus Mudut dan Nurhayati yang mengajar di SD kelas jauh SDN 01 Elok Asam, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas sudah kuliah di UT Sambas. Kuliah setiap hari Minggu, dari Minggu pagi sampai Minggu sore. Agar tidak terlambat, mereka berangkat ke Sambas pukul 05.00. “Dengan kuliah ini semangat kami mengajar bertambah”, begitulah kata Stepanus Agung. Keempat guru muda ini dapat kuliah berkat kemurahan hati para dermawan yang disalurkan melalui pastor Firminus Andjioe OFM Cap.

Albertus Alang mengatakan, “Dengan kuliah wawasan kami dibuka dalam cara kami mengajar, menyampaikan isi materi dan memperdalam isi materi pelajaran. Selain mengajar kami sadar bahwa kami juga berperan sebagai pendidik, menanamkan nilai-nilai kehidupan bagi murid-murid”.


Hidup sehari-hari

Ketika penulis berjumpa dengan keempat guru, 2 minggu yang lalu, tampak mereka agak kurus. Muka mereka sedikit cekung. Kesan yang sama juga dilihat oleh Bapak Jacob Pujana, anggota DPRD Kabupaten Sambas, yang sekaligus juga wakil dewan paroki, yang ikut membantu biaya transportasi mereka. Ketika penulis bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian tampak kurus?” Sambil tertawa mereka menjawab, “Makanan kami kurang gizi. Kadang kami makan seadanya saja.” Dalam hati penulis maklum, sebab di samping menanggung tugas mengajar, para guru muda  ini sekarang juga harus menanggung tugas belajar.

Dua hari sebelum tulisan ini dibuat, HP penulis berdering. Ternyata dari Alang. Ia kemudian berkata, “Maaf Pastor, tempo hari saya tidak bisa langsung membalas SMS Pastor, karena baru sekarang  saya dapat membeli pulsa dari hasil mengojek. Pas kebetulan ada orang yang minta diantar ke pusat kecamatan untuk mengurus surat-suratnya.” Inilah sedikit gambaran kehidupan keseharian guru-guru muda ini untuk menunjang kehidupan harian mereka. Usaha lain yang mereka kerjakan adalah menanam lada di sebidang tanah yang diberikan seorang Bapak untuk mereka tanami. Penulis sendiri menyumbangkan bibit untuk mereka. Hanya sayang sekarang tanaman lada mereka yang masih muda itu tinggal beberapa batang saja, sebab lahan mereka yang ada di dataran rendah tergenang air, akibat hujan yang berkepanjangan. Dari apa yang dipaparkan di atas, nampaklah bahwa mereka sebenarnya sudah berusaha untuk mandiri dengan meningkatkan pendapatan  mereka salah satunya untuk dapat makan makanan yang bergizi, namun belum semuanya berhasil.


Hidup dengan pelita

Nuansa kehidupan lain yang dapat digambarkan adalah ketika malam tiba mereka mempergunakan pelita untuk penerangan mereka. Apabila sudah mau tidur, pelita itu dipadamkan untuk menghemat biaya minyak. Jadi di sini para guru ini tidur dalam kegelapan. Di wilayah mereka, listrik belum masuk sampai ke kampung-kampung. Karena itu kalau mau mengecas HP, mereka harus pergi ke pusat Desa Elok Asam. Tentang sinyal HP, mereka hanya dapat menerimanya di bubungan rumah guru yang mereka tempati. Karenanya ketika mau mengirim sms atau menelepon, mereka harus naik ke bubungan, agar sms dan telepon mereka dapat berfungsi dengan baik. Kepada mereka penulis katakana, “Kalian berempat, memang luar biasa.”                                                                           

SEKOLAH DASAR DI ELOK KOLONG (Bagian 3)

SEBUAH PERJUANGAN UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA
ANAK-ANAK PEDALAMAN YANG BERPENDIDIKAN
(P. Firminus Andjioe OFMCap)

Masalah sosial di kampung ini, perkawinan di usia muda merupakan hal biasa. Suatu hari ketika mereka tahu bahwa salah seorang di antara kami adalah seorang pastor, maka dihadapkanlah kepada pastor sepasang calon pengantin. Yang wanitanya berusia baru menginjak usia 14 tahun dan yang lelaki berasal dari kampung ini. Kedua orang tua calon pengantin hadir pada saat itu dan merestui akan terjadinya perkawinan. Mereka mengatakan anak-anak mereka sudah saling mencintai, sanak famili yang hadir pada saat itu juga mengiakan. Pastor menanggapi supaya perkawinan ditunda dan menerangkan dan memberikan alasan-alasan penundaan baik dari sudut hukum maupun kesehatan dan akibat sosial lainnya. Walaupun Pastor memberi nasihat penundaan, dalam kenyataan perkawinan pastilah tetap terjadi. Biasanya diselesaikan secara adat.


Tanah yang Diminati Perusahaan

Problem sosial lainnya, tanah mereka sangat diminati oleh pihak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan. Pihak perkebunan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan lahan mereka dengan cara mendekati tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang tertentu yang berpengaruh di tempat ini. Akibat pendekatan ini menimbulkan keresahan karena menimbulkan pro dan kontra. Akibat berkali-kali munculnya keresahan. Atas permasalahan ini maka kami diminta segenap warga bermusyawarah untuk menanggapi penawaran pihak perusahaan. Apapun keputusan harus ditaati segenap masyarakat setempat. Dalam musyawarah setiap orang diberi kesempatan bicara. Saat itu seorang pimpinan masyarakat setempat, yang dicurigai tanpa musyawarah mau menjual tanah milik masyarakat tampil berdiri menjelaskan, bahwa ia memang didekati pihak perusahaan, tetapi tidak pernah memberi tanggapan. Seorang Ibu tampil bicara. Ia mengatakan kalau tanah dilepaskan kepada pihak lain, kemana lagi mereka mau berladang. Seorang ibu lain mengatakan, air sungai nanti menjadi keruh dan beracun. Ke mana mau cari air minum dan sulit menangkap ikan. Seorang bapak yang tua mengatakan, anak cucu nanti tidak ada tanah untuk tinggal. Seorang ibu yang lain mengatakan nanti sulit cari sayur di hutan dan kayu api untuk masak. Nampaknya alasan-alasan sangat sederhana, tetapi menyangkut kehidupan pokok sehari- hari. Hasil musyawarah akhirnya menyepakati, tanah tetap dipertahankan. Pengelolaan tanam tumbuh berupa kayu-kayu, bila mau menebangnya juga harus dimusyawarahkan. Kesepakatan ini mereka tuangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani segenap unsur pimpinan yang ada di kampung tersebut.

Pernah sekali waktu kami berbincang dengan keempat guru yang mengajar. Di kedalaman hati mereka ingin sebenarnya kuliah mengambil jurusan pendidikan di Universitas Terbuka. Senin sampai dengan Sabtu pagi tetap mengajar. Sabtu Sore sampai Minggu sore ikut kuliah. Mereka ingin melanjutkan belajar, karena mereka menyadari, pendidikan yang mereka peroleh akan menambah kemampuan mereka dalam mengajar anak-anak didik mereka. Dan ada rasa khawatir juga, bahwa suatu saat bila mereka tidak menyesuaikan diri dengan persyaratan sebagai seorang guru, pastilah akan tersingkir. Padahal kata mereka sudah sangat merasa betah mengabdi mengajar. Mereka akui juga khususnya ketiga guru muda ketika diminta mengajar di kampung ini, pada mulanya berjuang untuk betah, melawan kesepian kampung tanpa listrik, tanpa TV, tanpa hiburan apapun. Hobi bermain futsal harus ditinggalkan perlahan-lahan dan diganti dengan hobi memancing, memukat ikan dan bermaraton dari ujung kampung menuju lokasi tertentu. Atau juga masuk menjelajahi hutan ke hutan. Tentang mau kuliah, persoalan yang mereka hadapi adalah dananya dari mana, sedangkan mereka mengajar di situ tanpa gaji. Salah satu di antara guru menerawang lalu berdiri dan matanya menatap kosong ke depan.


Pertanyaan Menggugah Hati

Lalu muncul di benak kami yang adalah pencetus gagasan peduli pendidikan di kampung ini dan mengutus ketiga pemuda menjadi guru di tempat ini, “Apakah benar motivasi peduli pendidikan ini sampai mengorbankan ketiga pemuda ini dan menjadikan mereka guru di tempat yang jauh dari keramaian dan berteman dengan kesunyian?” Ataukah, “Kegiatan ini terwujud semata-mata hanya suatu program pribadi saja?” Memang kami sebagai pencetus datang sekali-kali datang menjenguk dan mendengar kisah mereka dan meneguhkan mereka lagi dan lagi sambil membawa buah tangan dan memberi uang saku sekedarnya dari uluran tangan beberapa orang yang bersimpati, sekedar untuk membeli keperluan hidup sehari-hari seadanya.

Dalam kunjungan terakhir baru-baru ini dan tiga hari bermalam di rumah guru, keesokan pagi sebelum meninggalkan kampung ini, kami menyempatkan diri menyalami murid-murid dan keempat guru. Murid-murid berebutan menyalami sambil mencium tangan kami. Murid-murid melambaikan tangan. Dua tiga murid yang masih kecil-kecil yang berpakaian seadanya, corak warna baju yang sudah kusam dan ada juga yang terlepas kancingnya memberi pesan pada kami, “Hati-hati di jalan, ya.” Ibu Norhayati, terutama tiga guru muda, yakni: Albertus Alang, Stepanus Agung dan Dominikus Udut memandang kepergian kami dengan rasa haru. Kami memandang keempatnya dengan rasa iba dan berjanji dalam hati, bahwa kami tetap mendampingi mereka dalam mewujudkan cita-cita pengabdian mereka. Semoga Tuhan memberkati niat ini.

Sesudah sekian lama sejak kunjungan kami terakhir, bagaimanakah perkembangan perjuangan pendidikan SD di Elok Kolong? Silahkan klik di sini untuk mengikuti cerita selanjutnya.

*******

SEKOLAH DASAR DI ELOK KOLONG (Bagian 2)

SEBUAH PERJUANGAN UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA
ANAK-ANAK PEDALAMAN YANG BERPENDIDIKAN
(P. Firminus Andjioe OFMCap)

Sekali waktu Paun, lelaki paruh baya bercerita kepada kami, “Kalau mandi di sungai yang berbatu besar itu badan jadi berpanau,” katanya sambil menunjuk batu besar yang ada di tepi sungai itu. Saya tertawa, bagaimana badannya tidak berpanau kalau sesudah mandi di sungai itu ia mengeringkan badannya dengan handuk yang selalu dililitkan atau diikatkan di pinggangnya. Bahkan handuknya pernah berfungsi sebagai pembungkus seekor ikan hasil pukatnya yang diberikan kepada ketiga guru. Umumnya juga, habis makan handuk juga dipakai untuk mengelap tangan. Terlihat juga oleh kami beberapa orang menderita penyakit flu. Handuknya untuk menyeka ingusnya yang keluar. Jadi masalah kesehatan ternyata kadang masih dijelaskan lewat mitos.


Berusaha Menarik Perhatian

Pada suatu pagi, ketika ketiga guru baru bangun tidur jam menunjukkan jam setengah enam lewat. Tiba-tiba terdengar suara motor meraung-raung, lalu motor dimatikan. Rupa-rupanya seorang laki-laki paru baya. Ia lalu naik ke rumah, memperkenalkan dirinya dan dibuatkan kopi. Kemudian beberapa orang keluar dari rumahnya masing-masing menemui laki-laki paru baya itu. Rupanya ia menuntut pembayaran papan yang digesek. Kemudian ia menulis di dinding depan rumah guru tulisan sebagai berikut, “Hargailah Orang Kecil. Saya Minta Uang Gesek Papan. Terima-kasih”. Sebab menurutnya tempo hari dialah yang meng-gesek papan rumah guru tersebut. Dulunya ia adalah penduduk setempat, tetapi sekarang sudah berpindah ke daerah lain. Sesudah kejadian itu, ketiga guru menjadi serba tidak nyaman untuk tinggal di rumah itu. Hari itu proses pengajaran berhenti. Sesudah di usut dengan baik, ternyata inti persoalan adalah lelaki paru baya tadi marah, karena tanahnya di tanami sawit oleh salah satu keluarganya yang adalah pimpinan kampung tersebut. Situasi ini ia tidak terima, tetapi ia tidak berdaya menyelesaikannya. Supaya terselesaikan ia berusaha menarik perhatian. Sesudah duduk perkaranya diketahui, tanaman sawit dicabut persoalan dianggap selesai dan esok harinya proses pengajaran berjalan kembali.

Adalah seorang anak laki-laki duduk di kelas dua, sebut saja namanya Joni sering kedapatan membolos. Ketika ditanya mengapa membolos, rupanya ia disuruh oleh orang tuanya untuk mengasuh adik-adiknya. Ia kadang membolos sampai seminggu. Ia satu-satunya anak yang bersekolah dari kampung yang berjarak sekitar delapan kilo dari rumah sekolah. Anak ini harus melalui jalan setapak yang kiri-kanannya adalah hutan. Begitulah sebelum kami menghidupkan lagi sekolah di Elok Kolong, anak ini harus bersekolah di sekolah induk di pusat desa yang berjarak empat km dari Elok Kolong. Jadi dulu ia harus menempuh sekitar dua-belas km setiap hari untuk bersekolah.

Ada satu anak lagi, masalahnya lain. Ketika kami pada suatu hari mengamati para murid yang belajar, ia berdiri di depan pintu kelas dua. Sekolah ini memang baru mempunyai dua ruang kelas yang serba seadanya. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Mengapa tidak sekolah?” Ia menjawab, “Saya kelas tiga”. Ditanya lagi, “Mengapa berhenti sekolah?” Ia menjawab, “Saya dibilang bodoh oleh seorang guru.” Ia mengatakan, “Kalian yang bodoh berhenti saja sekolah.” Karena malu dengan teman-temannya dibilang bodoh inilah maka ia berhenti sekolah. Ketika ia ditanya lagi, “Masih maukah engkau sekolah, karena dengan bersekolah engkau bisa jadi dokter, guru, atau kepala desa?” Ia menjawab mau. Lalu kami katakan, “Tahun depan engkau sekolah lagi di sini.” Memang tahun depan di sekolah ini sudah ada kelasnya. 


Motor Hasil Sumbangan

Salah satu dari tiga guru mempunyai motor, hasil sumbangan orang yang bersimpati kepada kami. Kendaraan ini dipakai oleh ketiga guru ke pusat kecamatan untuk mengantar laporan ke pihak UPT Pendidikan. Motor itu juga dipakai untuk mengikuti penataran guru. Kalau demikian pemeliharaan kendaraan dan bensin pasti diperlukan. Karena itu ketiga guru ini pernah ikut mendulang. Oleh tokoh masyarakat setempat yang adalah mantan kepala desa, mereka dinasihati supaya tidak mendulang karena berbahaya. Ditakutkan tertimpa tanah longsor. Sebagai gantinya sepulang mengajar para guru ini mengojek hasil ladang masyarakat setempat berupa cabe, timun untuk dijual ke tempat penampungan yang jaraknya cukup jauh. Sekali waktu seorang ibu minta dijualkan cabenya ke pasar Sambas. Hasil jualan Rp 300 ribu. Ibu itu memberi Rp 100 ribu sebagai imbalannya.       

Administrasi sekolah berupa laporan bulanan guru mengajar dan laporan jumlah murid perbulan ternyata beres. Dan itu selalu diantar ke UPT. Kepala UPT Pendidikan Subah, menurut keempat guru sangat simpatik. Ia memberi dorongan kepada keempat guru-guru muda ini untuk tetap bertahan mengajar. Pesan ini meneguhkan mereka. Dana BOS mulai dialirkan ke sekolah ini berkat kejelian kebijakan UPT. Penggunaan dana BOS pertanggunggjawabannya ternyata tercatat dengan baik berapa yang masuk dan untuk apa.

Di sekolah ini, kedekatan murid dan guru sangat familiar dan masih alamiah. Ketika kami bersama satu guru melewati sungai yang ada di kampung sebelah, tiba-tiba di seberang sungai terdengar teriakan, “Pak guru! Pak guru!” kata anak-anak sambil melambaikan tangan. Nampak anak-anak itu sedang memancing ikan.

Kehadiran guru di tengah-tengah mereka ada kesan kuat selalu dirindukan anak-anak. Sehabis pembagian rapor sekolah libur. Ketiga guru muda pulang ke kampung halaman.

Ketika hari pertama masuk sekolah lagi dan para murid melihat guru-guru ini, mereka berebutan menyalami sambil mencium tangan. Bahkan ada yang mengelus tangan sang guru sambil tertawa-riang. Lalu bersamaan memasuki halaman sekolah. (Untuk bagian 3 dari tulisan SD di Elok Kolong klik di sini).

SEKOLAH DASAR DI ELOK KOLONG (Bagian 1)

SEBUAH PERJUANGAN UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA
ANAK-ANAK PEDALAMAN YANG BERPENDIDIKAN
(P. Firminus Andjioe OFMCap)

Ketika di kota anak-anak bersekolah dengan nyaman, dengan gedung sekolah yang bagus dan guru digaji dengan memadai, namun di Elok Kolong, nama kampung di wilayah Desa Tebuah Elok, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas, ada SD yang bangunannya masih beratapkan daun rumbia, banyak anak yang bersekolah masih nyeker dan gurunya dibayar dengan beras.

Bagaimana ini bisa terjadi? Karena Sekolah didirikan oleh masyarakat, bukan oleh pemerintah. Mereka mendirikan bangunan SD itu, karena gedung sekolah negeri di Elok Asam terlalu jauh. Ada  yang berjarak 4 Km, 6 Km dan yang paling jauh 8 Km dari kampung mereka masing-masing. Sekarang masyarakat sedang berjuang agar SD mereka dapat dinegrikan, sekolah dibangun dengan layak dan gurunya mendapatkan Gaji yang memadai.

Bagaimanakah perjuangan mereka dalam menggapai cita-cita mulia ini? Mari kita simak kisahnya. 

*******



Di SD Elok Kolong ada lima guru yang mengajar. Mereka ini adalah Albertus Alang, Stepanus Agung, Dominikus Udut, Ringgo dan Noerhayati. Namun seiring berjalannya, Ringgo akhirnya mengundurkan diri. Ia hanya mampu mengajar selama tiga bulan. Pengunduran dirinya dapat dimengerti karena bagaimana mungkin ia dapat bertahan hidup kalau hanya dibayar dengan beras saja, sedangkan ia kadang pergi mengajar memakai motor orang tuanya. Dari mana ia mendapat uang bensin untuk sepeda motornya? Sejauh diketahui, sesudah pulang mengajar, ia menyempatkan diri membuka kebun lada. Namun dari praktek yang dijalaninya, merawat lada sepulang dari mengajar tidak mencukupi waktunya. Inilah satu alasan ia mengundurkan diri.

Alasan Bertahan

Keempat guru lainnya masih bertahan, karena melihat murid-murid yang ada sudah ada kemajuan dalam hal membaca, menulis dan berhitung. Agung mengatakan, “Saya ada di sini. Saya mau membaharui masyarakat, terutama mendidik anak-anak yang ingin sekolah, tetapi tidak ada yang mau memperhatikan mereka. Inilah yang membuat saya betah mengajar di tempat ini. Anak- anak sangatlah perlu mendapatkan pendidikan apalagi di jaman yang modern ini. Saya tidak mau masih ada masyarakat yang jauh tertinggal di dunia pendidikan. Setidak-tidaknya mereka pandai membaca dan menulis, sehingga tidak ada yang buta huruf ketika mereka keluar ke dunia yang akan datang, yakni dunia maju. Saya melihat juga masyarakat di kampung ini mendukung dan sangat memperhatikan serta menghargai kehadiran kami sebagai guru pembantu. Anak-anak sangat bersemangat mau belajar. Mereka yang dulu tidak bisa membaca dan menulis, berkat kehadiran kami ternyata sudah bisa membaca dan menulis. Yang paling membuat saya betah adalah melihat semangat anak-anak di Elok Kolong ini yang mau belajar. Saya pikir janganlah saya mematikan semangat belajar mereka ini. Saya berusaha membantu mereka sejauh kemampuan saya.

Memang dulu ketika pertama kali kami datang ke sekolah ini, anak-anak belum tahu membaca satu tulisan yang ditunjuk oleh kami. Ketika kami datang kembali ke sekolah ini, rata-rata anak-anak sudah dapat mengeja huruf-huruf dalam kalimat. Satu murid bernama Yudi, sudah sangat lancar membaca. Yang satunya lagi bernama Yulianus sangat berbakat di bidang Matematika. Kepada anak ini kami bertanya: 2+2 berapa? Ia menjawab 4. 4+4 berapa? Ia menjawab 8. 8+8 berapa? Ia menjawab 16. 16+16 berapa? Ia menjawab 32. 32+32 berapa? Ia menjawab 64. 64+64 berapa? Ia menjawab 128.128+128 berapa? Anak ini terdiam sejenak lalu hanya tertawa.


Paket C dan Rumah Guru

Ibu Noerhayati walaupun tamatan Paket C dan tidak mengenal ilmu cara mengajar, ternyata ia mengajar dengan baik. Ia mengajar murid-murid kelas 1 dengan cara yang sangat mudah dipahami oleh anak didiknya. Ia tidak bosan-bosannya mengulang-ulang melatih murid-muridnya menulis abjad di papan tulis. Kadang-kadang ia mendatangi muridnya satu persatu di bangku sambil memegang tangan murid untuk mengajarinya menulis abjad di buku tulis masing-masing. Begitu juga dalam mengenalkan angka-angka ia dengan sabar memperkenalkan angka nol sampai sepuluh. Sepulang mengajar ibu Noerhayati pergi ke ladang. Seperti ibu-ibu sekampungnya, ia juga tanpa segan-segan menggambin, menaruh tali keranjang di kepalanya untuk pergi ke ladang. Sekali waktu pada waktu sore hari kami melihat sepulang dari ladang, ia memberi buah timun kepada tiga guru lainnya.

Ketiga Guru, yakni Alang, Agung dan Udut tinggal di satu rumah, yang oleh masyarakat setempat disebut rumah guru. Padahal rumah itu hanyalah sebuah rumah kecil yang berukuran 4x6, terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, dapur dan wese yang semuanya berukuran serba kecil, hasil gotong-royong masyarakat setempat. Rumah ini terbuat dari dinding papan dan atap seng, tetapi sebagian beratap daun untuk mencukupi atap seng yang kurang. Pada mulanya rumah ini tidak berwese. Ketika pertemuan pertama bersama masyarakat, disyaratkan rumah ini harus ada wesenya, supaya para guru tidak berwese di seluas alam yang ada. Dikatakan pada mereka tidaklah mungkin seorang guru, ketika sedang berwese terlihat oleh anak muridnya, bisa-bisa kewibawaan sang guru akan terpengaruh. Di kalangan masyarakat sendiri, mereka hampir semua berwese di seluas alam yang ada. Rata-rata rumah tidak mempunyai wese. Hal ini mungkin karena mereka  pagi-pagi sudah berangkat ke ladang. Sore baru pulang ke rumah. Kalau ladang atau tempat pendulangan cukup jauh, maka biasanya mereka tidak pulang. Kadang sampai seminggu. Kama itu wese mereka rasakan tidak terlampau penting. Toh mereka juga kalau mau ke wese dengan mudah pergi ke sungai yang mengitari kampung.(Untuk membaca bagian 2 dari tulisan SD di Elok Kolong ini, klik di sini)

Monday, April 11, 2016

SEJARAH SINGKAT GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA SAMBAS (Bagian Ketiga)

BUAH-BUAH PANGGILAN
HASIL PENGINJILAN MISIONARIS SETELAH SATU ABAD PAROKI

Tahbisan Imam:

1.Pastor Paulus Tjie Djiu Luk, CDD asal Sambas (tahbisan, 1987). Meninggal, 2004.
2.Pastor Lodewyik Tshie, CDD asal Sambas (tahbisan tahun 1990)
3.Pastor Frederikus Samri, OFMCap asal Sasak (ditahbiskan, 2001)
4.Pastor Markus Use, OFMCap asal Sawah (ditahbiskan, 6 Februari 2003)
5.Pastor Alfonsius Anam, OFMCap asal Sungai Bening (ditahbiskan, 2004)
6.Pastor Andreas Derry, OFMCap asal Sepandak-Subah (ditahbiskan, 2009)

Hidup Membiara Bruder dan Suster:

1.Bruder Leonard Manurung, OFMCap asal Elok Sempita-Subah.
2.Suster Maria Sofia, KFS (Sambas). Suster Hermina, KFS (Sambas). Suster Paula, KFS (Sambas). Suster Agata, KFS (Subah). Suster Angela Merici, KFS (Aping). Suster Elfrida, KFS (Sungai Bening). Suster Edita, KFS (Sawah). Suster Brigita, KFS (Senipahan). Suster Fransita, KFS (Sasak). Suster Yosepha, CB (Sasak). Suster Leoba Putra, SCK (Sasak). Mereka yang sudah meninggal: Sr. Maria Gratia,KFS. Sr. Gorgonia, KFS. Sr. Cunera, KFS. Sr. Auxilia, Sr. Marie Jose, KFS. Sr. Anastasia, KFS. Sr. Fulgentia, KFS. Sr. Elisabeth, KFS.

PASTOR YANG PERNAH DAN MASIH BERTUGAS
DI PAROKI SAMBAS 1913-2016

Tahun Berkarya
Pastor Paroki
Tahun Berkarya
Pastor Rekan
1913 - 1927
Fidelis
1921 - 1922
Evaritus


1925 - 1928
Salvator
1928 - 1948
Salvator
1927 - 1928
Christianus


1946 - 1948
Adelhelmus
1948 - 1950
Adelhelmus
1949 - 1953
Matheus Pian CDD
1950 - 1952
Wilbertus De Witt


1952 - 1958
Cesarius
1952 - 1957
Wilbertus De Witt


1953 - 1954
Yan Baptista Ma CDD


1957 - 1958
Adelhelmus
1958 - 1964
Adelhelmus
1961 - 1963
Christianus
1964 - 2000
Modestus Berkelmans
1967 - 1977
Fridolinus Van Veghel


1976 - 1980
Silvinus Notor


1981 - 1982
Bertus Visschedjik MHM


1982 - 1986
Bernard Lam


1986 - 1991
Benediktus Likoy


1992 - 1997
Firminus Andjioe


1997 - 1999
Innocentius Sialim


1997 - 1999
Joseph Juwono
2000 -
Firminus Andjioe
1999 - 2001
Egidius Egiono


2002 - 2003
Innocentius Anton


2002 - 2003
Bonifacius Richard


2004 - 2008
Kosmas Jang


2007 - 2009
Mikael Denco


2008 - 2011
Heliodorus Herman


2010 - 2011
Gabriel Marcel


2011 - 2012
Alfred Dino


2011 - 2012
John Wahyudi


2012 – 20…
Paskalis Soedirjo


2016 - 20…
F. Cahyo Widiyanto
Sumber: P. Markus Use OFMCap. Buku Kenangan Perayaan Satu Abad Paroki Sambas: November , 1913-2013. Paroki Sambas, Sambas, 2013.

Wednesday, April 6, 2016

SEJARAH SINGKAT GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA SAMBAS (Bagian Kedua)

 Untuk Membaca Sejarah Singkat Gereja Katolik Kristus Raja, Sambas yang pertama, klik di sini!

Sekitar 1950 baru ada enam buah stasi baru yang terletak di luar kota Sambas. Keenam stasi tersebut adalah: Segarau, Sekura, Paloh, Aruk, Sawah, dan Subah. Kebanyakan stasi-stasi itu dibuka dengan tidak resmi sebab pelayanan dan kunjungan Pastor terjadi secara berkala dan atas permintaan dan undangan dari kampung-kampung bersangkutan. Kebanyakan stasi-stasi berikutnya yang terbentuk sekitar tahun 1970.

Kunjungan Pastor ke kampung umumnya ditujukan kepada mereka yang pernah tinggal di asrama yang sudah dipermandikan. Kunjungan ditujukan hanya untuk beberapa orang saja sebagai bentuk pemeliharaan rohani umat diaspora. Namun secara perlahan-lahan, banyak orang di kampung-kampung mulai membuka pintu bagi agama Katolik karena agama nenek moyang (Animisme) dianggap ketinggalan zaman. Masuk agama berarti sudah mengikuti perkembangan zaman, sudah maju. Di samping itu, ada dorongan dari pihak militer agar mereka memeluk salah satu agama resmi negara. Banyak orang datang dan mengundang Pastor untuk memberikan Sakramen Baptis.

Dengan bertambahnya jumlah umat, menuntut setiap stasi di kampung untuk mengangkat seorang pemimpin agama, yang oleh Pastor mereka sebagai wakilnya di antara umat di kampung itu. Sejak tahun 1970 umat Katolik di pedalaman khususnya di daerah Bantanan bertambah secara kuantitatif. Awalnya Pastor Fridolinus van Veghel mengunjungi stasi di kampung-kampung hanya sekali setahun menjadi 2-3 kali setahun karena melihat perkembangan umat Katolik yang kian pesat meskipun hubungan transportasi masih sulit. Pemeliharaan rohani umat di kampung selanjutnya dilaksanakan oleh Pastor Silvinus Notor 1976. Dia merupakan Pastor pribumi pertama yang bertugas di Paroki Sambas. Pastor ini mulai secara intensif memberikan pendampingan kepada stasi-stasi di kampung melalui kegiatan retret dan pendalaman iman umat di daerah Bantanan dan Subah. Dengan demikian, stasi-stasi yang awalnya kecil terbentuk menjadi stasi yang besar.

Banyak Pihak Terlibat

Paroki Sambas tidak sekali jadi, tetapi melalui proses yang panjang dan perkembangan serta kemajuannya melibatkan banyak pihak. Jauh sebelum Paroki ini terbentuk secara resmi (1913) sudah ada beberapa Pastor datang, melihat dan melayani orang Katolik. Meskipun jumlahnya tidak seberapa tetapi mereka telah berusaha menjajaki dan memberikan pelayanan rohani kepada mereka. Sentuhan kasih yang mereka berikan memberikan penyegaran, kekuatan dan semangat kepada orang Katolik. Di samping Pastor ada pula Katekis. Dari awal Paroki Sambas sudah ada Katekis yang membantu dalam urusan Paroki bahkan di daerah pedalaman ada beberapa orang yang praktis berlaku sebagai Katekis atau seorang guru yang menjadi pelopor perkembangan agama.
Peran Suster

Perkembangan Paroki ini tak terlepas juga dari peran para Suster meskipun awalnya sebatas di dalam kota saja. Karya karitatif yang mereka geluti melalui sekolah-sekolah, poliklinik, kunjungan ke rumah-rumah dan katekese memberikan andil besar bagi perkembangan dan kemajuan Paroki Sambas. Meskipun di daerah pedalaman belum ada peranan Suster namun mereka memberikan pendidikan dan pendampingan bagi sebagian kecil anak- anak perempuan di asrama. Sejak 1977, para Suster mulai terlibat dalam kegiatan tourne bersama Pastor dan Katekis ke kampung. Di kampung mereka membantu dalam pengobatan bagi yang sakit dan katekese.
Peran Umat

Di samping itu, peran serta seluruh umat turut membantu perkembangan dan kemajuan Gereja di Paroki Sambas. Keinsafan sebagian besar umat Katolik dengan cara mereka telah menyumbang andil besar bagi kemajuan tersebut. Hal ini nampak dalam kesiapan dan kerelaan mereka menjadi pelopor dan katekis sukarela di tempat di mana mereka berada. Guru- guru sekolah menjadi kader umat, dan memimpin umat beribadat.


Bentuk Karya Kerasulan

Sejak awal terbentuknya Paroki, bentuk karya kerasulan yang sudah lazim dilakukan adalah tourne. Pastor bersama guru agama atau Katekis pergi dari kampung ke kampung. Di kampung, Pastor bertemu dengan umat dan memberikan pengajaran iman kepada mereka melalui katekese. Pastor berusaha agar ia dikenal umat dan umat tidak segan dengannya. Pastor berusaha menjalin pendekatan yang baik dengan tua-tua di kampung yang dikenal berwibawa dan berpengaruh. Melalui pendekatan ini, banyak orang, tua-muda di kampung mau dikumpulkan. Pada saat berkumpul, Pastor berkatekese dengan bahasa yang bisa dimengerti, bahasa Indonesia dan bahasa setempat. Oleh karena itu, setiap perjalanan tourne, Pastor selalu membawa seorang Katekis atau guru agama yang tahu bahasa setempat. Tourne merupakan salah satu sarana pewartaan dan kerasulan yang masih sangat efektif hingga sekarang ini dan tetap mesti dipelihara dan dilanjutkan.

Peran Sekolah

Sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa peranan sekolah sangat penting dalam perkembangan Paroki. Sekolah dilihat sebagai sarana yang ampuh untuk membentuk dan menyemai benih iman. Begitu juga dengan peran poliklinik atau rumah sakit.
Peran Asrama

Asrama sebagai tempat pemondokan bagi anak-anak sekolah dilihat sebagai bentuk karya kerasulan yang sangat membantu perkembangan Paroki. Asrama tidak hanya sekedar tempat tinggal tetapi juga tempat untuk membentuk mental dan kepribadian setiap pribadi. Asrama memungkinkan seseorang untuk mandiri dan bertanggung-jawab atas diri dan sekitarnya. Karena itu, asrama dilihat sangat penting bagi pembentukan manusia yang bertangung-jawab dan beriman. (F. Cahyo W.). 

Untuk membaca Sejarah Singkat Gereja Katolik Kristus Raja Sambas (Bagian Ketiga) klik di sini !

Sumber:  P. Markus Use OFMCap.  Buku Kenangan Perayaan Satu Abad Paroki Sambas: November , 1913-2013. Paroki Sambas, Sambas, 2013.