GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA

Propeller Ads

Propeller Ads

Tuesday, December 13, 2016

PROFESI PERDANA DAN 25 TAHUN HIDUP MEMBIARA

PROFESI PERDANA DAN 25 TAHUN HIDUP MEMBIARA
PARA SUSTER KFS DI PAROKI SAMBAS


Kamis, 8 Desember 2016, pukul 09.00 WIB bertepatan dengan Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Gereja Kristus Raja, Sambas terlihat lain. Banyak pastor, biarawan-biarawati dan umat terlihat hadir, karena lima orang suster KFS, yakni: Sr. M. Clara KFS, Sr. M. Helena KFS, Sr. M. Eufrasia Baptista KFS, Sr. M. Gaudentia KFS, Sr. M. Gemma Galgani KFS  mengucapkan profesi perdana dan tiga orang suster KFS, yakni: Sr. M. Irene KFS, Sr. M. Yulita KFS, Sr. M. Yenny Baptista KFS merayakan pesta perak hidup membiara. Prosesi mereka memasuki gereja didahului para penarik Dayak yang dengan apiknya menghantar para suster dan keluarga yang berpesta menuju altar.


Apa yang menjadikan perayaan profesi perdana dan pesta perak para suster KFS ini lebih istimewa adalah kehadiran 3 Uskup, yakni Mgr. Hieronimus Bumbun OFMCap, uskup emeritus Keuskupan Agung Pontianak, yang bertindak sebagai selebran utama, dua uskup konselebran, yakni Uskup Palangkaraya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka MSF dan Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM dan juga 16 imam konselebran.


Belajar dari Teladan Keutamaan Bunda Maria

Dalam homilinya Mgr. Aloysius Murwito OFM menyatakan kepada umat yang hadir, bahwa ada tiga keutamaan yang dapat dipelajari dan diteladani dari sosok Bunda Maria, yang oleh Gereja diberi gelar “Dikandung Tanpa Noda Dosa”. 


Pertama, Bunda Maria adalah sosok wanita yang penuh dengan iman. Orang yang mengandalkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dan orang yang beriman itu memperlihatkan diri sebagai orang yang tiada ragu. Hidupnya di dalam Tuhan penuh dengan kepastian, karena hatinya terbuka lebar-lebar untuk menerima rahmat Tuhan. Rahmat Tuhan inilah yang membuat seseorang hidupnya suci. Keterbukaannya inilah yang menyebabkan hidup Maria dipenuhi dengan rahmat dan berkat Tuhan. Iman Maria tampak dalam tanggapannya terhadap warta Malaikat Gabriel. Ia berani menjawab ya atas rencana Tuhan di dalam hidupnya, suatu kepastian tanpa keraguan, sehingga sekalipun ia adalah wanita yang biasa, namun hidupnya dapat menghasilkan yang luar biasa. Sikap iman Maria ini jauh melebihi sikap iman Zakharia, yang sekalipun ia adalah seorang imam, namun karena keraguannya terhadap Malaikat, ia akhirnya menjadi bisu. Hidup Maria adalah hidup yang seutuhnya dibaktikan bagi Tuhan.


Kedua, Bunda Maria adalah wanita yang penuh kebajikan. Yang menyertai dirinya adalah berkat Allah, yang ia coba dengan merawat, menjaga dan memeliharanya. Dengan bahasa kita, karunia dan rahmat Tuhan yang diberikan ditanggapi dengan disiplin diri yang kuat dalam hal-hal yang sederhana, tugas-tugas harian baik yang besar, maupun yang kecil dan juga dalam hal yang biasa-biasa saja. Kebajikan ini juga didukung oleh keberanian Bunda Maria untuk menjawab ya, penuh kepastian atas warta Malaikat yang disampaikan kepadanya. Kalau kita berani menjawab ya seperti Bunda Maria, maka konsekuensinya kita juga seharusnya mengubah cara hidup kita, yang oleh Paus Fransiskus disebut berani meninggalkan kenyaman hidup. Kita juga harus berani keluar dari diri kita sendiri. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan dapat menghasilkan buah-buah besar di dalam kehidupan kita, sebagaimana telah dihasilkan juga oleh para suster KFS yang berpesta 25 tahun hidup membiara.


Ketiga, Bunda Maria adalah seorang wanita yang penuh dengan Roh Kudus. Ketika seseorang, pikiran dan hatinya terbuka lebar-lebar terhadap Roh Kudus, maka hidupnya semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan inilah sebenarnya yang disebut suci, tanpa noda, karena kita selalu bekerja sama dengan Roh Kudus. Hidup suci bagi kita tidaklah mustahil sebab Allah sendiri memang telah “memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapannya” (Ef.1:4). Untuk lima suster yang berprofesi perdana, Mgr. Aloysius berpesan, agar Bunda Maria kiranya dapat dijadikan sebagai contoh dan teladan dalam mengikuti panggilan Tuhan. Ia berharap, agar kelima suster senantiasa berani membuka pikiran dan hati lebar-lebar atas rahmat Tuhan yang sedang bekerja.  Tiga suster yang berpesta perak juga dapat menjadi contoh bagi mereka. Dalam meniti panggilan Tuhan kadang muncul keraguan, tetapi kalau kelima suster tetap mau menjawab panggilan Tuhan dan bekerja sama dengan rahmat-Nya, maka mereka pasti akan mampu. Di sini peranan doa tidak boleh dilupakan. Doa janganlah dilihat sebagai kewajiban atau peraturan, tetap sungguh sesuatu yang mengalir dalam rasa cinta kepada Tuhan dan suatu kesempatan untuk senantiasa menimba kekuatan dari Roh Kudus yang selalu menyertai hidup kita.


Kepada kelima suster yang berprofesi perdana dan ketiga suster yang berpesta perak, Mgr. Aloysius meminta mereka untuk tidak segan-segan juga belajar dari St. Fransiskus. Sebab selama hidupnya St. Fransiskus sungguh mencintai Bunda Maria dan meletakkan ordonya dalam perlindungan Bunda Maria Ratu Para Malaikat. St. Fransiskus sungguh mengalami dan merasakan kasih dan penyertaan Bunda Maria dalam tantangan dan kesulitan yang dialami ordonya.

Dipanggil Bukan untuk Sukses, tetapi untuk Setia

Sr. M. Yulita KFS dalam kata sambutan yang mewakili yang berpesta menyatakan,  bahwa pada awal menanggapi panggilan Tuhan, angkatan mereka berjumlah 18 suster. Tetapi dalam perjalanan waktu akhirnya 7 suster yang tinggal, yakni 3 suster yang merayakan pesta perak di Sambas dan 4 suster lain yang merayakan pesta perak di Flores, yakni Sr. M. Imeldine KFS, Sr. M. Carolina KFS, Sr. M. Emanuela KFS dan Sr. M. Theodora KFS.


Ia kemudian mengungkapkan, pengalaman menghidupi panggilan 25 tahun membiara tidaklah selalu berjalan mulus. Banyak tantangan, godaan dan cobaan baik dalam suka maupun duka. Namun demikian ia menyatakan, bahwa “selama kami tinggal di biara kami lebih banyak mengalami sukanya daripada dukanya.” Kata-kata ini disambut umat dengan tepuk tangan yang meriah.


Ia selanjutnya mengutip kata-kata bijak buah-buah dari refleksi yang mengatakan demikian, “Saat aku tak paham akan maksud Tuhan, aku memilih tetap percaya; saat aku tertekan oleh kecewa, aku memilih untuk tetap bersyukur; saat rencana hidupku berantakan, aku memilih untuk tetap bersabar; saat putus asa melingkup diriku, aku memilih untuk tetap maju.  Hidup dan panggilanku adalah pilihan. Tetapi apapun yang aku alami dalam hidup ini aku tetap percaya bahwa Yesusku dahsyat (Ayb.42:2). Aku dipanggil bukan untuk sukses tetapi untuk setia.


Ucapan Selamat, Doa dan Harapan dari keluarga

Sementara itu, Ibu Carolina Evin yang mewakili keluarga yang berpesta mengucapkan selamat dan sukses atas perayaan misa syukur kelima suster yang berprofesi perdana dan tiga suster yang berpesta 25 tahun hidup membiara. Ia mendoakan, agar para suster senantiasa diberi umur panjang di dalam tugas dan pelayanan. Ia berharap, agar di antara kaum muda, banyak juga yang terpanggil dan terinspirasi untuk hidup membiara. Ia juga memberi nasihat, agar para orang tua tidak perlu takut, jika putra atau putrinya ada yang terpanggil untuk hidup membiara, sebab sebagaimana kesaksian suster yang berpesta 25 tahun hidup membiara, hidup menjadi suster lebih banyak bahagianya daripada susahnya.


Harapan Tuhan Pasti Lebih Baik

Sr. Maria Elisa KFS sebagai Pemimpin Umum KFS dalam kata sambutannya mengatakan, adalah sejarah baru dalam kongregasi KFS, bahwa 3 uskup berkenan hadir dalam perayaan pesta ini. Ia mengucapkan banyak terima kasih, kepada para pastor, bruder, suster, frater, bapak-ibu dan kepada semuanya yang telah mendukung acara pesta ini, sehingga perayaan ekaristi dapat berjalan dengan baik dan lancar.


Kepada tiga suster yang berpesta perak, Sr. Elisa mengucapkan profisiat dan selamat atas perayaan 25 hidup membiara. Ia mengucapkan terima kasih atas sumbangan suster yang telah berjuang dan mengabdi di KFS dan ia mengajak mereka untuk terus maju dan berjuang mengabdi Tuhan dan Gereja-Nya di dalam Kongregasi Fransiskanes Sambas. Kepada lima suster yang berprofesi perdana, Sr. Elisa berterima kasih, karena mereka telah memilih KFS untuk mengabdi Tuhan dan berkarya bagi kemuliaan-Nya.


Kepada para orang tua dari para suster yang berkaul perdana, ia mengucapkan terima kasih karena mereka telah rela memberikan putri terbaiknya untuk hidup dan berkarya di KFS.  Ia yakin, sekalipun orang tua mempunyai harapan yang baik untuk putrinya, tetapi harapan Tuhan terhadap putri-putri mereka pasti lebih baik daripada yang dapat mereka pikirkan. Ia juga mendoakan, agar kiranya Tuhan memberikan berkat-Nya yang melimpah kepada orang tua serta keluarga para suster semua, yang telah merelakan putri-putri mereka untuk bergabung dalam KFS.

Hadiah Rosario

Dalam kata sambutannya yang bergaya humor, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka MSF, mengucapkan selamat kepada kelima suster yang telah mengucapkan profesi perdana dan juga kepada ketiga suster yang berpesta 25 tahun hidup membiara.


Namun demikian, Mgr. Sutrisnaatmaka juga bukan hanya menyampaikan kata sambutan, tetapi ia juga memberikan hadiah rosario kepada ketiga suster yang berpesta perak dan juga kepada pimpinan umum KFS. Dengan hadiah ini ia berharap, agar suster KFS jika jumlah para susternya bertambah juga bersedia mengutus susternya ke Keuskupan Palangkaraya.


Kepada para suster yang berpesta perak dan menerima Rosario, Mgr. Sutrisnaatmaka berpesan, agar para suster mendoakan semua umat di keuskupan masing-masing, termasuk juga Palangkaraya dan juga KFS, sebab Bunda Maria pasti akan menyertai kita semua.

Untuk lima suster yang baru berprofesi perdana, Mgr. Sutrisnaatmaka tidak memberikan hadiah secara khusus. Ia hanya berseloroh, hadiah baru akan diberikan kala mana mereka juga mampu mencapai perayaan 25 tahun hidup membiara.


Sesudah upacara liturgi di gereja, perayaan profesi perdana lima suster KFS dan pesta 25 tahun hidup membiara suster 3 suster KFS kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah di Biara St. Fransiskus Xaverius, rumah induk para suster KFS. (FCW).

0 komentar:

Post a Comment