GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA

Propeller Ads

Propeller Ads

Wednesday, May 17, 2017

KEGIATAN BAKTI SOSIAL DAN PENGOBATAN GRATIS DI STASI ST. MARIA, ASUANSANG


Jumat, 12 Mei – Minggu, 14 Mei 2017,  228 Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Sambas, khususnya OMK wilayah Sajingan Besar dan OMK Sambas kota mengadakan “Bakti Sosial dan Pengobatan Gratis” (BSPG) di Stasi St. Maria, Asuansang, Paroki Kristus Raja, Sambas.

Menurut F. Deni Surianto, pendamping OMK Paroki Sambas, tujuan diadakannya kegiatan BSPG ada dua. Pertama, agar umat Stasi Asuansang, walaupun secara geografis letakknya agak terpencil dari Paroki Sambas, dikenal sebagai dusun yang relatif baru  dan jumlah umat yang sedikit, namun tetap merasa bagian tak terpisahkan dari Paroki Sambas. Kedua, agar OMK memiliki kepeduliaan dengan perkembangan Gereja, khususnya Gereja di daerah terpencil; memiliki kreativitas dalam bidang seni dan memiliki iman yang mantap, sehingga sesuai dengan tema BSPG, yakni “OMK Siap Melayani” mereka sungguh siap memberi diri untuk sesama yang memerlukan bantuan atau pertolongan.


Sebelum berangkat ke Asuansang, OMK Paroki Sambas berkumpul di Batang Air dan  akan berangkat bersama-sama dengan sepeda motor sekitar pukul 14.00 Wib. Tetapi karena cuaca mendung, beberapa OMK berangkat terlebih dahulu.

Ketika rombongan terakhir OMK Sambas bersama Pastor Moderator OMK Sambas, F. Cahyo Widiyanto OFMCap hampir sampai di stasi Asuansang, mereka disambut dengan hujan yang lumayan lebat. Namun demikian, hujan tidak mengurangi semangat OMK untuk mengikuti kegiatan BSPG.

Sesampainya rombongan di Asuansang, semua anggota OMK Paroki Sambas di sambut dan didoakan secara adat oleh Ketua Adat Dusun Asuansang, Bapak Aleksander Tangguan, agar kiranya semua kegiatan BSPG dapat berjalan dengan baik dan lancar, tidak ada satu gangguan apapun. Setelah acara doa dan penyambutan, maka pastor F. Cahyo Widiyanto OFMCap memotong dan memancung buluh muda dan bersama OMK memakan sirih, pinang, gambir dan kapur dan sambil diiringi tarian adat berjalan menuju ke tempat penginapan masing-masing stasi.


Bakti Sosial dan Pengobatan Gratis

Bakti sosial yang dilakukan OMK di Asuansang mencakup lima tempat, yaitu memagar dan mengecat pagar gereja stasi St. Maria Asuansang; membersihkan, memagar dan mengecat pagar sekolah SDN 11 Asuansang; membersihkan lingkungan dan membuat saluran air di Puskesdes Asuansang; membersihkan dan membuat parit di komplek gereja protestan GKE; membersihkan rumput-rumputan di Balai Dusun Asuansang dan jalan menuju pelabuhan sungai air pasang-surut serta menuju ke perumahan penduduk.


Agar OMK dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka OMK telah dibagi dalam kelompok-kelompok kerja, bukan berdasarkan asal stasi mereka, tetapi dipilih secara acak agar sesama OMK dapat saling mengenal satu dengan yang lain. Kelompok kerja yang dimaksud adalah kelompok St. Maria, St. Fransiskus, St. Yosef, St. Yohanes dan St. Markus. Dalam kelompok masing-masing mereka juga mempunyai yel-yel kelompok yang dapat menyatukan dan menyemangati mereka dalam seluruh aktivitas mereka selama mengikuti BSPG di stasi Asuansang. Di samping itu di antara OMK dipersiapkan tim ice breaking yang mempunyai tugas membawakan lagu-lagu dan permainan kelompok untuk menghidupkan suasana sehingga terlihat meriah dan semangat.


Kegiatan bakti sosial juga menjadi semakin bersemangat karena para tentara zipur yang sedang bertugas di Asuansang ikut membantu OMK dalam bakti sosial yang diselenggarakan. Dalam pelaksanannya bakti sosial yang dilakukan OMK dijiwai oleh semangat untuk saling bantu membantu satu dengan yang lain. Oleh karena itulah ketika kelompok yang satu sudah menyelesaikan tugasnya, kelompok itu membantu kelompok lain yang belum selesai. Setelah OMK selesai melakukan bakti sosial, nampaklah bahwa gereja stasi Asuansang terlihat lebih indah dan rapi.


Untuk kegiatan pengobatan gratis di stasi Asuansang pelaksanaanya ditangani oleh dua dokter, yakni Dr Eri dan Dr Adrian dan juga didampingi oleh Sr. Donata KFS, bidan Michele  dan tenaga medis yang lain. Dalam pengobatan gratis ini ada 99 pasien yang datang untuk berobat.


Sebelum kegiatan pengobatan gratis, Sr. Donata KFS memberikan presentasi kepada OMK berkaiatan dengan “Kesehatan Reproduksi Remaja dan Narkoba”. Yang dimaksud dengan kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dan sistem reproduksi. Dengan pemberian materi ini, diharapkan agar OMK mengetahui betapa pentingnya kesehatan reproduksi bagi mereka karena hal ini berhubungan dengan manusia sebagai makluk seksual yang terdiri dari emosi, kepribadian dan sikap; OMK dapat menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan mereka sehari-hari dan OMK dapat menghindari hal-hal yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan reproduksi mereka.


Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Tujuan pembahasan berkaitan dengan narkoba ini adalah agar OMK dapat mengetahui apa itu narkoba dan bahaya narkoba bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Dengan mengetahuinya diharapkan agar OMK dapat menghindari dan tidak mengkomsumsi narkoba, sebab generasi muda adalah harapan gereja, bangsa dan negara.


Pentas Seni

Setelah dari pagi sampai sore mengadakan BSPG, malam harinya OMK mengadakan pentas seni untuk mengaktualisasikan bakat-bakat mereka dalam bidang seni. Dengan kreativitas seni yang ditampilkan OMK mau menampilkan sisi keindahan dan kehalusan jiwa manusia dalam suatu harmoni.


Pada malam pentas seni yang dihadiri oleh kepala dusun Asuansang, Bapak Martinus Martin dan Danton Zipur, Letnan Wardiman dan para undangan lainnya, tuan rumah stasi Asuansang yang diwakili oleh para remaja menampilkan tarian kolaborasi yang para pemainnya berasal dari agama Katolik, Protestan dan Islam yang kesemuanya menunjukan adanya keindahan dalam kebinekaan. Stasi Aruk menyumbangkan tarian modern dance. Stasi sajingan dan Nyalak (Senipahan) menampilkan lawak yang membuat OMK dan tamu undangan tertawa terpingkal-pingkal. Stasi Tapang menampilkan nyanyian ciptaan mereka sendiri dan OMK dari Sambas kota menampilkan lagu yang diiriingi oleh gitar akustik dan sapé.


Akhirnya kegiatan pentas seni ditutup dengan menyalakan api unggun bersama yang menjadi simbol agar semangat OMK tidak pernah padam, selalu menyala menjadi jiwa Gereja, terus membangun kebersamaan dan kekompakkan dan bersatu hati meraih yang terbaik bagi Gereja dan masyarakat.


Ekaristi Kaum Muda

Kegiatan BSPG di stasi St. Maria, Asuansang akhirnya memuncak dalam perayaan ekaristi kaum muda (EKM). Artinya seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan memuncak dalam perayaan syukur ekaristi, yang dianimasi oleh OMK Paroki Kristus Raja Sambas.


Bahwa EKM sesuai dengan namanya adalah ekaristi kaum muda, maka seluruh petugas liturgi adalah kaum muda. Yang menganimasi seluruh nyanyian dalam EKM, Mazmur dan Alleluya adalah OMK dari stasi Sajingan; tari pembuka dari Aruk, petugas bacaan I dari stasi Tapang, petugas bacaan II dari stasi Nyalak, tarian persembahan dari stasi Asuansang dan petugas doa umat dari stasi Sasak.

Dalam kotbahnya, Pastor Cahyo menyatakan kebanggaan kepada OMK, karena mereka telah menjadi OMK yang beriman, peduli dan yang gembira dan ini semua, nampak dalam bakti sosial bersama yang telah dilakukan, dalam kreativitas pentas seni yang telah ditampilkan dan juga dalam keterlibatan dan kreativitas OMK dalam EKM.


Dalam semangat Paskah, Pastor Cahyo mengajak semua OMK, agar mereka dari hari ke hari semakin percaya bahwa Tuhan Yesuslah jalan, kebenaran dan hidup mereka. Berangkat dari kepercayaan itu, OMK sebagai bagian dari bangsa yang terpilih, kaum imam yang rajawi, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri dapat menjadi batu-batu yang hidup, yakni dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari, yang diwujudkan dengan kesetiaan di dalam doa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan baik pribadi dan bersama dan juga giat dalam karya cinta kasih kepada sesama, khususnya mereka yang memerlukan uluran tangan mereka.

Pesan dan Kesan atas Kegiatan BSPG

Dalam kata sambutannya, Ketua Umat Stasi St. Maria, Asuansang, Bapak Marselinus Mingkiat mengucapkan banyak terima kasih karena stasi Asuansang telah dipercaya sebagai tempat kegiatan BSPG yang di wilayah Sajingan adalah kegiatan pertama kalinya. Ia menilai kegiatan BSPG di stasi Asuansang dikatakan berhasil, karena  semua kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan lancar, baik dan sukses sebagaimana diharapkan. Keberhasilan kegiatan ini tentulah di samping berkat partisipasi dan kerja sama dengan OMK, dukungan pastor paroki, para pejabat pemerintahan desa dan kepolisian, tentu juga berkat penyertaan Tuhan yang luar biasa.Sebagai Ketua Umat, Bapak Mingkiat mensuport kegiatan BSPG OMK karena dengan kegiatan ini, OMK semakin dilatih untuk memiliki semangat tinggi, mempunyai daya juang, semangat kegotong-royongan, kebersamaan, kemampuan untuk saling mengenal satu dengan yang lain dan belajar menjaga sportivitas. Ia berharap agar kegiatan BSPG OMK ini bukan hanya bersifat seremonial belaka, tetapi bsa berkelanjutan dan berkesinambungan dan ditingkatkan pada kesempatan yang lain.


Ketua Panitia kegiatan BSPG, Bapak Ardiansyah menyatakan, umat di stasi Asuansang dapat belajar banyak dari apa yang sudah dilakukan selama kegiatan BSPG ini. Ia berharap, agar kegiatan OMK di stasi Asuansang ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi berkelanjutan. Ia meminta agar dalam agenda kegiatan OMK Paroki, OMK stasi Asuansang senantiasa diundang dan dilibatkan, sehingga OMK di stasi Asuansang dapat juga maju dan berkembang. Akhir kata dalam kata sambutannya, Bapak Ardiansyah menantang seluruh OMK Paroki, agar berani datang kembali ke Asuansang untuk mengikuti kegiatan OMK, apapun bentuknya nanti.


Kepala Desa Sungai Bening, Bapak Efensius, menyatakan, bahwa ia sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan BSPG di Asuansang ini, sehingga masyarakat Asuansang yang dulu tidak dikenal, sekarang dapat maju dan berkembang, tetap hidup dalam kekompakan dan kegotong-royongannya dan tetap hidup dalam keharmonisan dalam penghayatan hidup beragama yang ada dalam masyarakat. Kepada OMK, Bapak Efensius mengingatkan, OMK adalah garda terdepan untuk membangun bangsa, negara dan agama. Oleh karena itulah ia mengajak, agar OMK dapat berkerja sama dengan baik dan bahu membahu dalam hal positif untuk dapat membangun wilayah desanya masing-masing dan juga gereja. Ia berharap agar setiap tahun ada kegiatan seperti BSPG ini.


Antonius Aan, Ketua OMK Sambas dalam pesan dan kesannya menyatakan, bahwa ia sangat senang mengikuti kegiatan BSPG, karena dengan mengikuti kegiatan ini, ia diajar untuk bekerja sama dan menjaga kekompakan dalam setiap kegiatan. Ia berharap, agar kegiatan BSPG ini tidak hanya putus sampai di sini, tetapi bisa diteruskan di waktu dan tempat yang lain. Kepada OMK stasi Asuansang Aan berpesan, agar OMK stasi Asuansang dapat semakin bersemangat dan maju terus.


Seluruh rangkaian kegiatan BSPG di stasi St. Maria, Asuansang akhirnya selesai dengan foto bersama masing-masing stasi dengan latar belakang yang telah disiapkan, “OMK Siap Melayani”. Sebagaimana awal kegiatan OMK disambut dan didoakan secara adat, maka sebelum pulang OMK juga dilepaskan dan didoakan secara adat oleh Ketua Adat dusun Asuansang Bapak Aleksander Tangguan. Terima kasih umat stasi St. Maria, Asuansang. Terima kasih semua OMK Paroki Kristus Raja Sambas. Sampai jumpa nanti dalam pertemuan OMK berikut. (FCW).

Sunday, March 5, 2017

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2017 KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK

"MEMBANGUN KELUARGA KRISTIANI 
BERDASARKAN NILAI RUMAH PANJANG
YANG INJILI MENUJU KEUTUHAN CIPTAAN


Saudara-saudari umat kristiani terkasih,

Pada 1 Maret 2017 kita merayakan Hari Rabu Abu, tanda dimulainya masa prapaskah yang lebih sering dikenal dengan “masa puasa” selama 40 hari. Masa puasa adalah masa di mana kita, seluruh umat kristiani diberi kesempatan secara khusus untuk mengadakan permenungan, mawas diri, meninjau kembali hidup keagamaan kita, apakah sudah sesuai dengan apa yang kita imani. Masa puasa selalu diwarnai suasana matiraga, ulah tapa dan semangat doa sebagai ungkapan bahwa di hadapan Allah kita hanyalah debu, penuh dosa dan perlu melakukan pertobatan. 

Masa puasa adalah masa di mana kita yang dalam hidup keagamaan sudah menempuh jalan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, diajak untuk kembali / berbalik ke jalan yang benar. Seperti yang disabdakan Tuhan : ”berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh”(Yoel. 2: 12). 

Seperti tahun yang sudah-sudah setiap tahun, dalam masa puasa gereja menentukan tema khusus yang diharapkan mendapat perhatian khusus tanpa mengesampingkan tema-tema umum tentang pertobatan. 

Tahun ini tema khusus yang berlaku untuk seluruh Keuskupan di Kalimantan adalah “Membangun Keluarga Kristiani berdasarkan nilai rumah panjang yang Injili menuju keutuhan ciptaan”. 

Kenapa temanya berhubungan dengan keluarga? Karena “Keluarga-keluarga sangat penting sebagai pusat suatu iman yang hidup, tempat pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan kasih kristiani atau menjadi persekutuan pribadi-pribadi sebagai tanda dan citra persekutuan Allah Tritunggal” (Katekismus Gereja Katolik 1656,1666,2685,2205). 

Keluarga adalah “gereja kecil” dengan anggotanya yang sedikit, bapa, ibu dan anak-anak. Walaupun kecil namun sangat menentukan gereja besar”, keluarga besar umat Allah secara khusus dan masyarakat luas pada umumnya. Keluarga yang sehat, penuh dengan kedamaian dan kasih, saling melayani, bersemangat pengorbanan, saling mengampuni dan berkeadilan, sangat berperan terhadap gereja dalam arti yang lebih luas, dan masyarakat di mana keluarga itu berada. Tidak dapat disangkal bahwa banyak keluarga dewasa ini masih menghadapi banyak tantangan bahkan kesulitan yang seakan-akan tak ada jalan keluarnya. 

Tantangan atau kesulitan tersebut antara lain: adanya relasi dalam keluarga yang tidak harmonis, masalah yang berhubungan dengan kesetiaan dalam hidup perkawinan, beban ekonomi, lunturnya semangat pengorbanan, lingkungan pergaulan yang tidak sehat dll. Sehubungan dengan lingkungan pergaulan yang tidak sehat ini dan yang akan menjadi beban bahkan penderitaan dalam keluarga, kami ingin menggaris bawahi akan adanya bahaya bahwa cukup banyak anggota-anggota keluarga kita, terutama anak-anak muda yang terlibat dalam obat-obat terlarang / narkoba, yang sampai saat ini pengaruhnya belum bisa dibendung. Menghadapi tantangan tersebut, Keluarga Kudus dari Nazareth, Maria, Yosep dan Yesus harus menjadi teladan dan panutan setiap keluarga Katolik. Situasinya dan zamannya memang jauh berbeda, tetapi kualitas tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda. 

Kesulitan-kesulitan tersebut dialami antara lain karena banyaknya nilai- nilai luhur yang seharusnya ada dalam keluarga, dewasa ini sudah ditinggalkan karena pengaruh perkembangan di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi (hidup dalam persaingan) yang tidak terbendung. 

Sangat memprihatinkan bahwa hubungan satu sama lain yang seharusnya di dasarkan pada cinta kasih, sudah berubah menjadi hubungan yang didasarkan untung-rugi. Kalau dalam tema APP (Aksi Puasa Pembangunan) tahun 2017 ini “nilai-nilai rumah panjang” (istilah lain yang dipakai adalah “rumah betang”) yang injili ditawarkan untuk menjadi salah satu dasar untuk membangun keluarga, tentu tidak dimaksudkan untuk mengerdilkan nilai-nilai yang sudah ada dan kaya dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. 

Apalagi tidak dimaksudkan untuk menempatkan “rumah panjang” sebagai yang paling sempurna, seakan-akan mengesampingkan budaya-budaya lain yang beraneka ragam tidak ada nilai luhur yang universal yang bisa dijadikan acuan. 

Rumah Panjang yang masih ada di beberapa tempat di Kalimantan Barat ini memancarkan banyak nilai-nilai yang sungguh bisa membantu dan menyadarkan kita bahwa kita manusia diciptakan Allah sesuai dengan “gambar-Nya”(Kej.l:26) sehingga pada diri setiap orang ada sifat Keallahan yang adalah “kasih”. Dalam setiap orang dan karya- karyanya ada nilai-nilai luhur yang memancarkan sifat Keallahan. 

Dari sekian banyak nilai- nilai luhur yang ada dan mewarnai kehidupan di rumah panjang di sini bisa kami sebut beberapa diantaranya, yaitu: semangat persaudaraan, gotong royong, berbela rasa, berkorban untuk kepentingan bersama, hidup takut akan Tuhan (Sang Penguasa Bumi), menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok. Tidak melanggar kesepakatan yang telah dibuat bersama, sikap mau mengampuni serta kepedulian terhadap alam sekitarnya. Ketika semua warga menghormati, menghargai dan melaksanakan nilai-nilai tersebut, maka warga yang diam di rumah panjang mengalami hidup yang penuh dengan kedamaian, aman, bahagia dan penuh sukacita. 

Bukankah nilai-nilai ini juga dibutuhkan dalam hidup berkeluarga dewasa ini. Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus. Masa puasa adalah masa di mana secara khusus kita meninjau kembali hubungan kita dengan Tuhan yang mulai renggang bahkan putus karena dosa-dosa kita. 

Mungkin jalan yang kita tempuh sudah menyimpang dari jalan yang dikehendaki Tuhan. Masa puasa adalah masa untuk bertobat, kesempatan untuk kembali.

Kita berdoa bagi Keluarga-keluarga yang menghadapi masalah dan dengan keyakinan bahwa tidak semua keluarga mengalaminya, marilah di masa puasa ini kita jadikan kesempatan untuk mawas diri, apakah kita ikut ambil peran sehingga terjadinya banyak tantangan bahkan kesulitan dalam hidup berkeluarga? Sebaliknya apa yang bisa kita lakukan agar kesulitan- kesulitan tersebut bisa dikurangi?

Sehubungan dengan kepedulian terhadap alam lingkungan, kami ingin mengingatkan bahwa rusaknya alam lingkungan mempunyai dampak yang tidak kecil pada kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat mendesak untuk meninjau kembali kebijakan kita terhadap alam-lingkungan/lingkungan hidup. 

Di daerah-daerah di mana lingkungan/alamnya masih luas, dalam mengelolanya hendaklah memperhatikan kepastian bahwa tidak akan membuat kehidupan umat manusia menjadi lebih berat bahkan menderita. Di daerah-daerah perkotaan, sampah selalu menjadi masalah. 

Kita bisa ambil peran agar sampah-sampah yang ada tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Semua dipanggil untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat. Di banyak sekolah Katolik sudah diusahakan agar lingkungannya menjadi hijau. Kiranya usaha ini masih bisa ditingkatkan lagi.

Marilah kita memasuki masa puasa ini dengan keyakinan bahwa Allah tetap mencintai dan tidak pernah meninggalkan kita umat-Nya, makhluk ciptaan-Nya, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau!” (Yes.49,15). Beginilah firman Tuhan: “berbaliklah kepada-Ku dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Aliahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yoel. 2:12-13).

SELAMAT MENJALANI MASA PUASA

Pontianak, Pada hari Rabu Abu, 01 Maret 2017
Mgr. Agustinus Agus, Pr
Uskup Agung Pontianak

Sunday, February 26, 2017

“BE A BROTHER FOR ALL, OMK: SIAP MELAYANI”

Jumat, 17 Februari 2017, 21 OMK (Orang Muda Katolik) Paroki Kristus Raja, Sambas dengan 1 pendamping OMK, F. Deni Surianto dan pastor moderator OMK,  F. Cahyo Widiyanto OFMCap, dengan menggunakan 11 sepeda motor pagi-pagi berangkat ke Wisma Tabor, Pusat Damai, Sanggau untuk mengikuti Capuchin’s Camp (selanjutnya disingkat CC) yang ke-3.


Ketika dalam perjalanan berhenti melepas lelah, OMK bersama menyanyikan theme song yang satu hari sebelumnya baru dibuat, “Kami OMK Sambas. Mencintai Kristus Raja dan Gereja-Nya. Mengisi Masa Muda Dengan Rajin Belajar, Berdoa dan Bekerja. Dengan Semangat St. Fransiskus  yang Tercinta.”  Dengan semangat theme song ini, akhirnya OMK Sambas tiba siang hari di Wisma Tabor, Pusat Damai dengan selamat dan siap mengikut CC yang ke-3 [CC I diselenggarakan di Rumah Retret Laverna-Sanggau (2015). CC yang ke-2 selenggarakan di Rumah Pelangi-Sungai Ambawang dan Rumah Retret Tirta Ria-Pontianak (2016)].


Apa itu Capuchin’s Camp

Capuchin’s Camp menurut P. Kristian Maryadi OFMCap sebagai Ketua Panitia CC ke-3 dalam Buku Panduan Kegiatan Capuchin’s Camp III adalah “suatu kegiatan OMK yang dianimasi oleh Saudara-saudara Kapusin Provinsi Pontianak.”


CC muncul karena kaum muda adalah sasaran yang paling rentan terkena pengaruh negatif zaman ini. Oleh karena itulah mereka perlu dibekali dengan spiritualitas kristiani yang bercorak fransiskan yang membuat mereka mampu bertahan dan tidak terbawa arus negatif modernisasi. Spiritualitas inilah yang dalam CC coba ditanamkan dan dikembangkan, baik secara personal, maupun komunal di dalam diri orang muda Katolik. Dalam pembinaan yang bersemangat Fransiskan ini, OMK – kata P. Lorenzo Helli OFMCap sebagai Ketua Imam Muda Kapusin Provinsi Pontianak – dibina dengan menitik beratkan pada “kebersamaan, persaudaraan, doa, pelayanan, keharmonisan dan kepedulian yang ditujukan pada semua makhluk.


CC ke-3 dibuka dengan pemotongan bambu (pancung buluh muda) oleh Propinsial Kapusin Pontianak, P. Amandus Ambot OFMCap yang kemudian dilanjutkan dengan perayaan ekaristi dengan selebran utama Uskup Emeritus KAP, Mgr. Hieronimus Bumbun OFMCap dan didampingi oleh P. Amandus Ambot OFMCap dan P. Lorenzo Helli OFMCap dan beberapa imam Kapusin lainnya. Pada kesempatan ekaristi pembukaan ini, juga ditampilkan lagu-lagu dari hasil kreativitas OMK CC ke-2 seperti “Mari Bersahabat dengan Alam”, “Kita Bersaudara”, “Ora et Labora”, “Seperti Fransiskus Memuji Dia” dan “Hidup Bersahaja.”  Tak lupa juga theme song pertemuan CC ke-2, yakni Caphuchin’s Camp yang senantiasa menyemangati setiap pertemuan dalam CC ke-3.


Kegiatan Selama Capuchin’s Camp ke-3

CC ke-3 kali ini diikuti oleh 310 peserta yang berasal 15 paroki yang berada di bawah penggembalaan para imam Kapusin. Kelima belas paroki itu adalah 1. Paroki St. Fransiskus Asisi-Tebet, Jakarta Selatan, 2. Paroki Raja Semesta Alam – Nanga Bulik, 3. Paroki Gembala Baik – Seng Hie, Pontianak, 4. Paroki St. Sesilia – Sungai Raya, 5. Paroki St. Theresia – Delta Kapuas, 6. Paroki Kristus Raja – Sambas, 7. Paroki St. Fransiskus Asisi – Singkawang, 8. Paroki St. Petrus – Sanggau Ledo, 9. Paroki St. Maria – Nyarumkop, 10. Paroki St. Yohanes Pemandi – Pahauman, 11. Paroki Salib Suci – Ngabang, 12. Paroki St. Maria Tak Bernoda – Pusat Damai, 13. Paroki Gembala yang Baik – Kuala Dua, 14. Paroki St. Paulus Rasul – Sekayam dan 15 Paroki St. Perawan Maria Diangkat ke Surga – Balai Sebut. Dalam CC ke-3 kali ini Paroki St. Paulus – Pangkalan Bun karena suatu halangan tidak mengirimkan OMK nya.  Kegembiraan CC ke-3 di Wisma Tabor – Pusat Damai juga bertambah, ketika ada 7 OMK dari Sarawak, Malaysia, yakni dari Paroki St. Stephen, Bau, Keuskupan Agung Kuching ikut serta menyemarakkan pertemuan akbar OMK yang diselenggarakan para saudara Kapusin ini.


Kegiatan selama CC ke-3 sendiri diisi kegiatan yang menarik dan menantang OMK, seperti malam keakraban, ice breaking, pembekalan untuk pelayanan di stasi, persiapan turne ke kampung, live in di stasi, katekese orang kudus Kapusin, menganimasi perayaan liturgi di stasi, out bond, dan akhirnya malam persaudaraan.


Acara malam persaudaraan diisi dengan pentas seni dari beberapa OMK Paroki. OMK Paroki Tebet menampilkan drama. Paroki Nanga Bulik menampilkan tari kreasi. Paroki Singkawang menampilkan musik kreasi, Paroki Gembala Baik (Seng Hie) menampikan tarian Tionghoa/mandarin dan Paroki St. Paulus Rasul, Balai Karangan menampilkan silat dan musik tradisional. Kepada paroki lain yang tidak diminta secara khusus penampilan kreativitasnya, panitia CC ke-3 juga memberi kesempatan untuk menghibur OMK dengan lagu-lagu spontanitas yang membuat malam persaudaraan semakin bersemarak. 

Motivasi, Syarat dan Ciri Pelayanan

Dalam pembekalan untuk pelayanan di stasi, P. Iosephus Erwin OFMCap menekankan pentingnya motivasi yang benar dalam pelayanan, yakni motivasi yang muncul dari dalam diri sendiri. Aku mau melayani karena didorong oleh spiritualitas kristiani yang bersumber dari Yesus sendiri. Jadi bukan motivasi ketakutan karena adanya hukuman dan paksaan dari pihak lain atau motivasi insentif, karena adanya imbalan yang diperoleh. Motivasi yang muncul dari dalam diri sendiri biasanya membuat orang kuat dan tahan dalam tantangan yang dihadapi dalam karya pelayanan.


Dari pengalaman sebagai gembala umat, P. Erwin berpendapat, ada empat hal yang perlu dipelajari agar OMK dapat menjadi pelayan (hamba Tuhan) yang baik. Pertama, OMK perlu belajar bertanggung jawab terhadap tugas dan sarana yang diberikan. Mengapa? Karena semua sarana yang ada adalah  milik Tuhan yang dipakai untuk melayani. Kalau ini disadari, maka kita akan dapat melayani dengan baik dan gembira. Kedua, OMK perlu belajar untuk bekerja keras dalam pelayanan, meskipun tanpa dibayar. Mengapa? Karena motivasi pelayanan pertama-tama bukan insentif, tetapi sungguh mau melayani Tuhan. Lalu apa balasannya? Upahmu besar di surga (Mat.5:12). Ketiga, OMK perlu belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri dalam karya pelayanan, tidak bersifat egois. Dengan semangat ini, OMK dapat menyesuaikan diri dengan siapa yang akan dilayani, rela berkorban dan orang lain yang dipentingkan. Keempat, OMK perlu belajar berkomunikasi. Artinya pelayanannya perlu disesuaikan dengan umat yang menerimanya, agar pewartaannya dapat dimengerti dan diterima.


Selanjutnya P. Erwin mengatakan ada empat ciri pelayanan yang menandakan, pelayanan itu bersifat gerejawi. Pertama, bercita rasa religius. Artinya Yesuslah menjadi pusat dan kita adalah murid-murid-Nya. Dengan rendah hati kita berusaha membagi pengalaman religius yang dialami dan mencoba melaksanakan kehendak Tuhan terlebih dahulu, sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Kedua, kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan guru kita dalam melayani. Dalam pelayanan disadari bahwa pelayanan adalah untuk semua orang. Tidak boleh ada orang yang dibeda-bedakan. Tentang hal ini kita bisa belajar dari kisah Orang Samaria yang baik hati.  Ketiga, mau mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus dalam melayani Gereja. Dengan kesadaran ini OMK akan sanggup bertahan dalam pelayanan, jika mengalami medan yang berat dan menghadapi situasi sulit. Keempat, pelayanan gereja memiliki ciri kerendahan hati. Artinya bukan karena lebih hebat atau pandai, maka saya melayani. Satu-satunya yang hebat adalah Tuhan sendiri dan saya hanyalah pelayan-Nya. Seperti St. Fransiskus OMK harus berani berkata,  Aku ini hanyalah hamba yang tak berguna (Bdk. Luk 17:10). Dengan semangat kerendahan hati inilah, Allah berkenan memakai saya sebagai alat di tangan-Nya.

Penutupan CC ke-3

Akhirnya CC ke-3 ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh P. Amandus Ambot OFMCap, Propinsial Kapusin Pontianak. Dalam homilinya, P. Amandus Ambot OFMCap mengajak OMK, agar momen CC ke-3 ini mendorong mereka untuk lebih aktif lagi di dalam karya pelayanan di gereja, masyarakat, keluarga, dan di mana pun OMK berada. Pelayanan OMK di sini diperlukan sebab pelayanan adalah bagian mendasar hidup kristiani yang diperintahkan Tuhan Yesus sendiri kepada para murid-Nya. Namun P. Amandus mengingatkan, agar karya pelayanan ini tidak hanya berkobar-kobar pada awalnya saja, tetapi semangat pelayanan ini mesti dijaga, dipelihara terus menerus. Dengan kata lain kesetiaan dalam karya pelayanan sangatlah penting. Dan ini hanya mungkin, jika OMK mempunyai motivasi yang benar dalam pelayanan, yakni sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, karena kasih dan keselamatan yang Ia telah berikan di dalam kehidupan kita dan tak lupa senantiasa menimba kekuatan Tuhan di dalam doa.


Pada bagian persembahan beberapa OMK mengenakan pakaian adat beberapa daerah. OMK Paroki Balai Sebut dan OMK Paroki Sanggau Ledo mengenakan pakaian adat Dayak, OMK Paroki Sesilia, Sungai Raya mengenakan adat Tionghoa, OMK Paroki Sambas mengenakan Pakaian Adat Melayu, OMK Paroki Delta Kapuas mengenakan pakaian adat Jawa.


Pada akhir pertemuan CC ke-3 juga diumumkan komunitas dan paroki yang memenangkan perlombaan. Untuk pemenang theme song dari komunitas yang dibentuk pada CC ke-3 adalah komunitas St. Klara dari Assisi (1), Ludovikus IX (2) dan St. Fransiksus Assisi (3). Sementara untuk perlombaan bahan katekese dan kreativitas, yang menjadi pemenang adalah Paroki, Paroki St. Fransiskus Asisi, Singkawang (1), Paroki St. Sesilia, Sungai Raya (2) dan Paroki Salib Suci, Ngabang (3).

Kesan dan Pesan CC ke-3

Ketika CC ke-3 berakhir, ada banyak kesan, pesan dan harapan yang disampaikan, baik dari OMK, maupun juga dari panitia. Beberapa kesan dan pesan yang ditangkap adalah sebagai berikut. 

Mario, ketua OMK dari Paroki St Sesilia, Pontianak dalam kesannya mengatakan, bahwa kegiatan CC ke-3 ini seru, banyak pengalaman, khususnya pengalaman turne. Apalagi saat turne di stasi Bacong, kelompoknya terhalang oleh banjir, jalannya jelek, sehingga mobil mereka sampai melintang-lintang. Namun demikian, kelompoknya tidak menyerah terhadap situasi sulit ini dan tetap semangat dalam melayani, sehingga capai pun tak terasa dan yang ada malah serunya.  Mario yang kuliah di Fakultas Fisika di Universitas Tanjung Pura dan sambil bekerja di perusahaan kontraktor berharap, agar CC ini ke depannya tetap diadakan, karena kegiatan ini bisa memancing ketertarikan teman-teman untuk ikut bergabung dalam karya pelayanan, membuka pikiran untuk kreatif dan bisa menumbuhkan panggilan untuk menjadi pastor, suster atau bruder.


Novan Luis Fernando dari Paroki St. Theresia, Delta Kapuas dalam kesannya menyatakan dua hal. Pertama, ia merasa bahagia mengikuti CC ke-3 ini karena ia bisa bergabung, berkumpul dan saling mengenal dengan OMK dari paroki-paroki lain. Kedua, pada saat turne, ia baru mengalami kali ini disambut seperti tamu istimewa, seperti penyambutan anggota DPR atau Gubernur dengan tari-tarian. Ia mengalami orang di stasi itu ramah-ramah, sopan dan baik. Dalam pesannya, ia berharap, agar cc yang ke-4 nanti dapat lebih meriah, seru dan menantang. Menurutnya CC seharusnya terus diadakan sampai CC yang ke-100 sambil disertai derai tawa gembira. 

John Wahyudi OFMCap sebagai Wakil Ketua CC ke-3 dalam kesannya mengatakan, bahwa CC ke-3 berjalan memuaskan. Dari awal dapat berjalan dengan baik dan lancar. Ia melihat bahwa keterlibatan peserta, panitia juga luar biasa. Ia berharap, agar seperti keinginan para OMK sendiri, ke depan CC dapat terus diadakan sebab OMK telah merasakan nilai dan manfaatnya. Misalnya saja mereka semakin banyak mengenal orang,  persaudaraannya, semangatnya dan menurut kesaksian para pendamping OMK, mereka yang ikut CC memang sebagian besar terlibat dalam kegiatan OMK di parokinya masing-masing.

Akhirnya tulisan ini ditutup dengan sapaan khusus untuk OMK di mana pun berada. Apa kabar OMK? Baik, beriman, dan bersaudara !!! (FCW).
Penggunaan BR Dalam Dokumen HTML

Tuesday, December 13, 2016

PROFESI PERDANA DAN 25 TAHUN HIDUP MEMBIARA

PROFESI PERDANA DAN 25 TAHUN HIDUP MEMBIARA
PARA SUSTER KFS DI PAROKI SAMBAS


Kamis, 8 Desember 2016, pukul 09.00 WIB bertepatan dengan Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Gereja Kristus Raja, Sambas terlihat lain. Banyak pastor, biarawan-biarawati dan umat terlihat hadir, karena lima orang suster KFS, yakni: Sr. M. Clara KFS, Sr. M. Helena KFS, Sr. M. Eufrasia Baptista KFS, Sr. M. Gaudentia KFS, Sr. M. Gemma Galgani KFS  mengucapkan profesi perdana dan tiga orang suster KFS, yakni: Sr. M. Irene KFS, Sr. M. Yulita KFS, Sr. M. Yenny Baptista KFS merayakan pesta perak hidup membiara. Prosesi mereka memasuki gereja didahului para penarik Dayak yang dengan apiknya menghantar para suster dan keluarga yang berpesta menuju altar.


Apa yang menjadikan perayaan profesi perdana dan pesta perak para suster KFS ini lebih istimewa adalah kehadiran 3 Uskup, yakni Mgr. Hieronimus Bumbun OFMCap, uskup emeritus Keuskupan Agung Pontianak, yang bertindak sebagai selebran utama, dua uskup konselebran, yakni Uskup Palangkaraya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka MSF dan Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM dan juga 16 imam konselebran.


Belajar dari Teladan Keutamaan Bunda Maria

Dalam homilinya Mgr. Aloysius Murwito OFM menyatakan kepada umat yang hadir, bahwa ada tiga keutamaan yang dapat dipelajari dan diteladani dari sosok Bunda Maria, yang oleh Gereja diberi gelar “Dikandung Tanpa Noda Dosa”. 


Pertama, Bunda Maria adalah sosok wanita yang penuh dengan iman. Orang yang mengandalkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dan orang yang beriman itu memperlihatkan diri sebagai orang yang tiada ragu. Hidupnya di dalam Tuhan penuh dengan kepastian, karena hatinya terbuka lebar-lebar untuk menerima rahmat Tuhan. Rahmat Tuhan inilah yang membuat seseorang hidupnya suci. Keterbukaannya inilah yang menyebabkan hidup Maria dipenuhi dengan rahmat dan berkat Tuhan. Iman Maria tampak dalam tanggapannya terhadap warta Malaikat Gabriel. Ia berani menjawab ya atas rencana Tuhan di dalam hidupnya, suatu kepastian tanpa keraguan, sehingga sekalipun ia adalah wanita yang biasa, namun hidupnya dapat menghasilkan yang luar biasa. Sikap iman Maria ini jauh melebihi sikap iman Zakharia, yang sekalipun ia adalah seorang imam, namun karena keraguannya terhadap Malaikat, ia akhirnya menjadi bisu. Hidup Maria adalah hidup yang seutuhnya dibaktikan bagi Tuhan.


Kedua, Bunda Maria adalah wanita yang penuh kebajikan. Yang menyertai dirinya adalah berkat Allah, yang ia coba dengan merawat, menjaga dan memeliharanya. Dengan bahasa kita, karunia dan rahmat Tuhan yang diberikan ditanggapi dengan disiplin diri yang kuat dalam hal-hal yang sederhana, tugas-tugas harian baik yang besar, maupun yang kecil dan juga dalam hal yang biasa-biasa saja. Kebajikan ini juga didukung oleh keberanian Bunda Maria untuk menjawab ya, penuh kepastian atas warta Malaikat yang disampaikan kepadanya. Kalau kita berani menjawab ya seperti Bunda Maria, maka konsekuensinya kita juga seharusnya mengubah cara hidup kita, yang oleh Paus Fransiskus disebut berani meninggalkan kenyaman hidup. Kita juga harus berani keluar dari diri kita sendiri. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan dapat menghasilkan buah-buah besar di dalam kehidupan kita, sebagaimana telah dihasilkan juga oleh para suster KFS yang berpesta 25 tahun hidup membiara.


Ketiga, Bunda Maria adalah seorang wanita yang penuh dengan Roh Kudus. Ketika seseorang, pikiran dan hatinya terbuka lebar-lebar terhadap Roh Kudus, maka hidupnya semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan inilah sebenarnya yang disebut suci, tanpa noda, karena kita selalu bekerja sama dengan Roh Kudus. Hidup suci bagi kita tidaklah mustahil sebab Allah sendiri memang telah “memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapannya” (Ef.1:4). Untuk lima suster yang berprofesi perdana, Mgr. Aloysius berpesan, agar Bunda Maria kiranya dapat dijadikan sebagai contoh dan teladan dalam mengikuti panggilan Tuhan. Ia berharap, agar kelima suster senantiasa berani membuka pikiran dan hati lebar-lebar atas rahmat Tuhan yang sedang bekerja.  Tiga suster yang berpesta perak juga dapat menjadi contoh bagi mereka. Dalam meniti panggilan Tuhan kadang muncul keraguan, tetapi kalau kelima suster tetap mau menjawab panggilan Tuhan dan bekerja sama dengan rahmat-Nya, maka mereka pasti akan mampu. Di sini peranan doa tidak boleh dilupakan. Doa janganlah dilihat sebagai kewajiban atau peraturan, tetap sungguh sesuatu yang mengalir dalam rasa cinta kepada Tuhan dan suatu kesempatan untuk senantiasa menimba kekuatan dari Roh Kudus yang selalu menyertai hidup kita.


Kepada kelima suster yang berprofesi perdana dan ketiga suster yang berpesta perak, Mgr. Aloysius meminta mereka untuk tidak segan-segan juga belajar dari St. Fransiskus. Sebab selama hidupnya St. Fransiskus sungguh mencintai Bunda Maria dan meletakkan ordonya dalam perlindungan Bunda Maria Ratu Para Malaikat. St. Fransiskus sungguh mengalami dan merasakan kasih dan penyertaan Bunda Maria dalam tantangan dan kesulitan yang dialami ordonya.

Dipanggil Bukan untuk Sukses, tetapi untuk Setia

Sr. M. Yulita KFS dalam kata sambutan yang mewakili yang berpesta menyatakan,  bahwa pada awal menanggapi panggilan Tuhan, angkatan mereka berjumlah 18 suster. Tetapi dalam perjalanan waktu akhirnya 7 suster yang tinggal, yakni 3 suster yang merayakan pesta perak di Sambas dan 4 suster lain yang merayakan pesta perak di Flores, yakni Sr. M. Imeldine KFS, Sr. M. Carolina KFS, Sr. M. Emanuela KFS dan Sr. M. Theodora KFS.


Ia kemudian mengungkapkan, pengalaman menghidupi panggilan 25 tahun membiara tidaklah selalu berjalan mulus. Banyak tantangan, godaan dan cobaan baik dalam suka maupun duka. Namun demikian ia menyatakan, bahwa “selama kami tinggal di biara kami lebih banyak mengalami sukanya daripada dukanya.” Kata-kata ini disambut umat dengan tepuk tangan yang meriah.


Ia selanjutnya mengutip kata-kata bijak buah-buah dari refleksi yang mengatakan demikian, “Saat aku tak paham akan maksud Tuhan, aku memilih tetap percaya; saat aku tertekan oleh kecewa, aku memilih untuk tetap bersyukur; saat rencana hidupku berantakan, aku memilih untuk tetap bersabar; saat putus asa melingkup diriku, aku memilih untuk tetap maju.  Hidup dan panggilanku adalah pilihan. Tetapi apapun yang aku alami dalam hidup ini aku tetap percaya bahwa Yesusku dahsyat (Ayb.42:2). Aku dipanggil bukan untuk sukses tetapi untuk setia.


Ucapan Selamat, Doa dan Harapan dari keluarga

Sementara itu, Ibu Carolina Evin yang mewakili keluarga yang berpesta mengucapkan selamat dan sukses atas perayaan misa syukur kelima suster yang berprofesi perdana dan tiga suster yang berpesta 25 tahun hidup membiara. Ia mendoakan, agar para suster senantiasa diberi umur panjang di dalam tugas dan pelayanan. Ia berharap, agar di antara kaum muda, banyak juga yang terpanggil dan terinspirasi untuk hidup membiara. Ia juga memberi nasihat, agar para orang tua tidak perlu takut, jika putra atau putrinya ada yang terpanggil untuk hidup membiara, sebab sebagaimana kesaksian suster yang berpesta 25 tahun hidup membiara, hidup menjadi suster lebih banyak bahagianya daripada susahnya.


Harapan Tuhan Pasti Lebih Baik

Sr. Maria Elisa KFS sebagai Pemimpin Umum KFS dalam kata sambutannya mengatakan, adalah sejarah baru dalam kongregasi KFS, bahwa 3 uskup berkenan hadir dalam perayaan pesta ini. Ia mengucapkan banyak terima kasih, kepada para pastor, bruder, suster, frater, bapak-ibu dan kepada semuanya yang telah mendukung acara pesta ini, sehingga perayaan ekaristi dapat berjalan dengan baik dan lancar.


Kepada tiga suster yang berpesta perak, Sr. Elisa mengucapkan profisiat dan selamat atas perayaan 25 hidup membiara. Ia mengucapkan terima kasih atas sumbangan suster yang telah berjuang dan mengabdi di KFS dan ia mengajak mereka untuk terus maju dan berjuang mengabdi Tuhan dan Gereja-Nya di dalam Kongregasi Fransiskanes Sambas. Kepada lima suster yang berprofesi perdana, Sr. Elisa berterima kasih, karena mereka telah memilih KFS untuk mengabdi Tuhan dan berkarya bagi kemuliaan-Nya.


Kepada para orang tua dari para suster yang berkaul perdana, ia mengucapkan terima kasih karena mereka telah rela memberikan putri terbaiknya untuk hidup dan berkarya di KFS.  Ia yakin, sekalipun orang tua mempunyai harapan yang baik untuk putrinya, tetapi harapan Tuhan terhadap putri-putri mereka pasti lebih baik daripada yang dapat mereka pikirkan. Ia juga mendoakan, agar kiranya Tuhan memberikan berkat-Nya yang melimpah kepada orang tua serta keluarga para suster semua, yang telah merelakan putri-putri mereka untuk bergabung dalam KFS.

Hadiah Rosario

Dalam kata sambutannya yang bergaya humor, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka MSF, mengucapkan selamat kepada kelima suster yang telah mengucapkan profesi perdana dan juga kepada ketiga suster yang berpesta 25 tahun hidup membiara.


Namun demikian, Mgr. Sutrisnaatmaka juga bukan hanya menyampaikan kata sambutan, tetapi ia juga memberikan hadiah rosario kepada ketiga suster yang berpesta perak dan juga kepada pimpinan umum KFS. Dengan hadiah ini ia berharap, agar suster KFS jika jumlah para susternya bertambah juga bersedia mengutus susternya ke Keuskupan Palangkaraya.


Kepada para suster yang berpesta perak dan menerima Rosario, Mgr. Sutrisnaatmaka berpesan, agar para suster mendoakan semua umat di keuskupan masing-masing, termasuk juga Palangkaraya dan juga KFS, sebab Bunda Maria pasti akan menyertai kita semua.

Untuk lima suster yang baru berprofesi perdana, Mgr. Sutrisnaatmaka tidak memberikan hadiah secara khusus. Ia hanya berseloroh, hadiah baru akan diberikan kala mana mereka juga mampu mencapai perayaan 25 tahun hidup membiara.


Sesudah upacara liturgi di gereja, perayaan profesi perdana lima suster KFS dan pesta 25 tahun hidup membiara suster 3 suster KFS kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah di Biara St. Fransiskus Xaverius, rumah induk para suster KFS. (FCW).

Wednesday, December 7, 2016

PESAN NATAL BERSAMA PGI DAN KWI TAHUN 2016

"Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat,
Yaitu Kristus, Tuhan di Kota Daud" (Lukas 2:11)


Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Salam sejahtera dalam kasih Kristus.

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi.

Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun. Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Saudari-saudara terkasih,

Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, “aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10).

Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut. Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan “jangan takut” (Luk 2:10).

Saudari-saudara terkasih,

Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.

Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.

Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.

Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.

SELAMAT NATAL 2016 DAN TAHUN BARU 2017

Jakarta, 10 Novembe 2016

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA
DI INDONESIA (PGI)
WALIGEREJA INDONESIA (KWI)

Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang
(Ketua Umum)

Mgr. Ignatius Suharyo 
(Ketua)
Pdt. Gomar Gultom
(Sekretaris Umum)
Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC
(Sekretaris Jendral)